Life, love and passion

Latest


Wahai Rabb yang Mahahidup, Wahai Rabb yang Maha Berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu) dengan rahmat Mu aku meminta pertolongan, perbaikilah segala keadaan dan urusanku dan janganlah Engkau serahkan kepadaku meski sekejap mata sekali pun tanpa mendapat pertolongan dari Mu.

Ya Allah Tuhan Penguasa langit dan bumi, ampunilah segala kesalahan dan dosa-dosaku , lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku. Ya Allah, lindungi hamba dari berbuat keburukan dan kekeliruan. Tunjukkan hamba jalan lurus yang Engkau ridhoi.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin…

Inspiring Stories of Aksi Bela Quran 212


Aksi super damai bela quran tanggal 2 Desember 2016 menjadi peristiwa fenomenal di Indonesia bahkan di dunia. Siapa yang tidak bergetar hatinya saat menyaksikan foto-foto dan video para santri dari Ciamis yang melakukan long march ke Jakarta. Siapa yang tidak merinding melihat lebih dari 7 juta orang memadati Monas sampai ke daerah Menteng bahkan ada yang melaporkan peserta penuh sampai ke Cempaka Putih.

Timeline socmed pun penuh dengan berita kedahsyatan aksi bela quran 212. Semua orang (muslim) di Indonesia seperti berlomba-lomba meng-update status dan men-share berita2 tentang aksi 212. Apalagi yang ikutan aksi, susah move on nyaa, kayak sayah gak ada bosen-bosennya, masyaAllah..

Etapi.. ada juga looh muslim yang nyinyir bin gak suka dengan aksi bela quran 212.  Mungkin mereka orang-orang yang munafik seperti yang Allah sebutkan dalam Al-Maidah 52, naudzubillah…  Semoga kita semua termasuk generasi Al-Maidah 54, aamiin..

Peristiwa bersejarah ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Oleh karena itu, saya mencoba merangkum beberapa tulisan yang saya copas dari grup WA. Semoga menginspirasi banyak orang dan menjadi ladang pahala bagi penulisnya  aamiin..

Selamat membaca dan semoga kita bisa mengambil ibroh dari tulisan berikut.

____________________________________________________________________________________________________________

  1. Santri 8 Thn Ikut Long March: “Saya Gantikan Bapak Yang Sudah Tiada untuk Jihad…”*
Renungan bagi kita dan para orangtua….

SEBUAH KESAKSIAN LONG MARCH CIAMIS – JAKARTA (II)

by Dara Lana Tan
Penantian saya dan orang-orang yang berbaris di sepanjang Jala Raya Cileunyi (Bandung), tidak sia-sia pun tidak surut walau hujan terus mengguyur.
Begitu rombongan pendemo dari Ciamis yang berjalan kaki muncul dari kejauhan, semua bersiap. Kami berdiri, berbaris panjang sekali di tepi jalan, menenteng kresek dan kardus berisi segala macam yang bisa kami berikan. Air minum dalam kemasan, hansaplast, jamu dalam kemasan sachet siap minum, masker untuk jaga-jaga jika nanti gas air mata disemburkan penguasa, sandal jepit, jas hujan dan pakaian ganti, plus sekantung plastik roti, donat, permen, buah, cemilan dlsb dalam satu plastik berbentuk paketan, kami bagikan.
ciamis-sembakoMereka, menerima dengan sangat senang hati. Takbir bersahutan tiada henti. Hujan, banjir, tidak menyurutkan massa untuk berkumpul memanjang dari ujung Jalan Raya Cileunyi sampai Bundaran Cibiru, dan sepanjang Jalan Soekarno-Hatta sampai Kantor Perhutani Soekarno – Hatta.
Yang membuat saya merinding, seorang santri kecil berusia 8 tahun, terlihat ikut berjalan bersama rombongan. TANPA ALAS KAKI, mengatupkan kedua telapak tangan dan menggigil kedinginan diguyur hujan.
Segera saya “tewak” (renggut) dan tarik ke pinggir anak itu.
“Sandalnya mana?” tanya saya.
“Putus, Bu. Jadi saya buang…” katanya.
Seorang dari kami menyodorkan sepasang sandal jepit baru.
“Bawa baju ganti?” tanya saya lagi.
Anak itu menggeleng.
Saya tarik makin ke tepi, tepat di teras Bank BJB ini. Saya minta dia melepas plastik kantung yang dipakainya untuk menahan hujan. Ternyata baju seragam santri yang dipakainya pun basah kuyup. Segera kami sodori sehelai kaos panjang dan celana training panjang, lalu dia memakai jas hujan yang juga kami sodorkan.
“Kenapa ikut?” tanya saya.
“Ngagentosan (menggantikan) pun Bapa (ayah saya)…” jawab anak lelaki itu.
“Bapa ade ka mana (Bapakmu ke mana)?” tanya saya sambil menggenggam kan beberapa lembar uang.
“Atos ngatunkeun (sudah tiada)…” jawab seorang santri dewasa yang muncul di belakangnya.
Ada rasa nyeri yang menyayat perut di bawah iga kanan saya.
Entah apa yang ada di benak para penghina, penyinyir dan penista yang kedua orang tuanya masih lengkap, berusia dewasa, punya biaya, uang banyak, gagah perkasa DAN dia MUSLIM, tapi bisanya cuma menyinyiri, menista dan menghina…
bocah
Rombongan lewat, semua logistik paketan habis kami bagikan. Tinggal logistik dalam wadah kardus dan karung. Kami naikkan ke Ambulance dan mobil-mobil bertanda rombongan.
Tetiba saya dibuat terkejut. Satu demi satu gadis-gadis berjilbab lebar itu bergantian memeluk saya dan saling berpelukan antar sesamanya dengan mata basah.
Ucapan syukur dan tangis kegembiraan mereka, juga terasa menyayat hati saya.
“Bu, ayo ikut…!” teriak anak gadis berjilbab lebar dan mengendarai sepeda motor. Saya diajak ikut mengiringi laju rombongan itu bersama anak-anak lain, dengan motor mereka.
Bahagianya hari ini, melupakan derita nyeri di hari pertama datangnya “tamu bulanan” saya…

___________________________________________________________________________________

2.  SEPENGGAL KISAH LONGMARCHER BOGOR – MONAS
Solidaritas Kafilah Ciamis : Jika Saudara Kami dari Ciamis saja bisa, Bogor pun bisa..!
Alhamdulillah, sungguh nikmat takterperi bagi kami, kafilah GNPF-MUI Bogor Raya yang berkesempatan menuntaskan longmarch dari Kota Bogor hingga Monas sejauh 70 kilometer, selama 24 jam. Sepanjang perjalanan longmarch menuju Monas, sungguh banyak kejadian-kejadian yang bikin kami terharu bahagia, menangis gembira, hingga terkaget-kaget dan terkejut-kejut. Rasa nano-nano gado-gado, agak sulit diungkapkan, kecuali bagi yang mengalaminya langsung.
_Yang Pertama Mengagetkan.._
Adalah ketika kami mendengar bahwa kafilah Ciamis, memutuskan berjalan kaki menuju Monas. Padahal berjarak hampir 300 km. Sebagai penghormatan, kami sudah melobi agar kafilah Ciamis bisa lewat Bogor sehingga ada kesempatan kami untuk menjamunya. Tapi ternyata sudah keduluan mau dijamu oleh rekan-rekan Bekasi. Fashtabiqul khairat, MasyaAllah..
_Yang Pertama Mengejutkan.._
Adalah ketika 25 armada bis yang rencananya akan mengangkut kami dari GNPF MUI Bogor Raya ternyata dibatalkan. Terinspirasi rekan-rekan pejuang dari Ciamis, akhirnya kami pun berbulat tekad akan melakukan longmarch. Lagi pula jarak Bogor – Monas hanya sekitar 70 kilometer. Jauh lebih pendek dibandingkan Ciamis – Monas yang hampir 300 kilo. Kafilah Ciamis memang ruarr biasa. Entahlah, kekuatan kakinya ditopang oleh apa. MasyaAllah..
_Yang Lebih Mengagetkan.._
Adalah saat kami sampaikan ke calon peserta yang sudah mendaftar. Ternyata ada ribuan pejuang yang antusias menyambut keputusan longmarch peserta Bogor menuju Monas. Sekali lagi, ada ribuan jamaah dari Bogor yang bersedia dan sanggup jalan kaki menuju Jakarta. Sebaran energi dari Ciamis nyata dahsyatnya, MasyaAllah…
_Yang Lebih Mengejutkan.._
Ternyata ada diantara peserta longmarch dari kalangan anak-anak sekolah, wanita dan bahkan kakek-kakek. Seorang anak seusia SD merengek-rengek ke bapaknya agar diijinkan ikut serta menemani orang tuanya, walau akhirnya tidak diijinkan. Ada juga seorang kakek tua usia 70-an menahan tangis gara-gara gak bisa ikut serta. Diselipkannya uang 100 ribu rupiah sebagai tanda turut berjuang dalam Aksi Bela Islam. “Bapak titip ya mas, bapak gak bisa ikutan jalan..”. Terharu…. MasyaAllah.
_Yang Makin Mengagetkan.._
Di sepanjang perjalanan, warga sudah menunggu kedatangan kami dengan menawarkan beragam makanan, minuman, buah-buahan, pakaian, hingga obat-obatan. Saking banyaknya bantuan yang diberikan, puluhan mobil yang menyertai peserta longmarch sudah tidak mampu lagi menampung pemberian warga. Beberapa mobil bahkan sampai kelebihan beban, padahal posisi masih di sekitar Cibinong Bogor. MasyaAllah..
_Yang Makin Mengejutkan.._
Ternyata banyak juga barang-barang unik yang diberikan warga, yang kami pun ada yang tidak terpikirkan sebelumnya, tidak sebatas makanan dan minuman semata. Ada handuk, sandal, sepatu, jas hujan, obat urut, minyak angin, salep pegel linu, minuman herbal, handyplast, hingga celana dalam sekali pake. Di Ciluar, puluhan anak-anak sekolah berjajar sepanjang jalan memberikan kue dan minuman. Di beberapa tempat di Cibinong, ada puluhan karyawan pabrik berseragam membagikan permen dan snack. Di Cilodong, ratusan ibu-ibu memberikan gorengan, roti, nasi kotak, kueh hingga mobil-mobil kami tdk sanggup menampung lagi saking banyaknya. Fenomena apa ini ? Solidaritas Kaum Muslim, luar biasa. MasyaAllah..
_Yang Tambah Mengagetkan.._
Di Cimanggis, saat rehat sejenak untuk mengistirahatkan badan dan meluruskan kaki, seorang ibu-ibu berjilbab besar tergopoh gopoh menghampiri. Minta dengan sangat agar kafilah longmarcher bersedia mampir di Masjid kompleknya. Beliau sampaikan, warga sudah menunggu berjam-jam dan telah disiapkan tempat untuk 400-an mujahidin. Saat itu sudah jam 11 malam. Walau sejak dari siang, perut belum terisi nasi, namun rupanya tawaran nasi tidak cukup menarik untuk diiyakan. Sedih sekali nampak raut mukanya. “Kami sudah menunggu berjam-jam lho pak..”, ucapnya mengiba.
Taklama kemudian, secara berurutan datang berbondong-bondong ibu-ibu yang lain, membawakan aneka makanan dan cemilan. Alhamdulillah, walau sudah jelang tengah malam tapi suasana masih sangat ramai. Tiba-tiba mobil berhenti di hadapan kami yang sedang duduk dan tiduran disepanjang trotoar, lalu keluarlah ibu-ibu setengah baya. Rada-rada memaksa menggandeng anak gadisnya yang terkesan malu-malu memberikan bingkisan ke kami. MasyaAllah..
_Yang Tambah Mengejutkan.._
Memasuki dini hari, bergabunglah rombongan massa Ormas Islam dari Depok. Jumlah peserta makin bertambah, longmarch makin meriah, semangat makin membuncah. Saat jelang pagi kami sudah memasuki Pasar Minggu. Seorang ibu berlari menghampiri kami dari arah belakang. Sambil memohon dengan sangat agar satu plastik penuh gorengan yang masih panas agar diterima. Katanya, pemberiannya ditolak disana sini, dari belakang hingga ke depan. Saya yang berada di barisan terdepan, akhirnya bersedia menerima. Untuk menyenangkannya, saya makan ubi goreng dan pisang goreng pemberiannya. Si ibu menangis haru..
Taklama kemudian, dari arah seberang terlihat seorang pemuda seusia 30-an berlari kencang menuju ke arah saya. Merangkul, mendekap erat seraya memberikan selembar uang 20 ribuan. “Tolong diterima tadz… tolong diterima, saya gak bisa ikut aksi. Saya hanya bisa ngasih ini..”, ucapnya mengiba. Setelah itu, bergegas dia berlari kembali ke seberang. Ternyata dia tukang gorengan. MasyaAllah..
_Yang Paling Mengagetkan.._
Begitu melewati Pancoran, banyak diantara anggota rombongan yang makin kepayahan, beberapa tertinggal dibelakang cukup jauh. Setengah mati kami berusaha bakar semangat dengan yel-yel yang nyaris tidak pernah berhenti. Beberapa peserta berjalan gontai dengan menyeret kakinya untuk melangkah. Namun, ada seorang bapak tua dengan perawakan kurus terlihat masih kuat walau kakinya terlihat pincang. Bikin malu kami kami ini yang jauh lebih muda, MasyaAllah..
Memasuki Cikini, kami telah disambut ratusan warga dipinggir jalan. Telah disiapkan aneka macam hidangan dan sarapan. Dengan sangat terpaksa, kami tidak mampir. Kami putuskan untuk meneruskan dan menuntaskan perjalanan, nanggung. Jam sudah menunjukkan pukul 09 pagi dan kami sebelumnya telah bertekad tidak akan berhenti kecuali jika telah sampai lokasi. Allahu Akbar..!
_Yang Paling Mengejutkan.._
Dari arah Cikini, massa peserta Aksi Bela Islam sudah menyemut. Kendaraan sudah penuh diparkir di kanan kiri jalan. Untuk menghormati kedatangan konvoi longmarch kafilah Bogor, peserta beringsut ke kiri dan kanan memberi jalan. Sambutan luar biasa meriah dan sorak sorai diiringi takbir membahana dari para peserta lain yang telah sampai duluan. Beberapa meter menjelang Tugu Tani, langkah kami terhenti, tidak bisa lagi merangsek lebih dekat. Total macet..cet..!
Alhamdulillah, usai sudah amanah dari warga Bogor tertunaikan, menuntaskan longmarch dari Bogor hingga ke Monas sejauh hampir 70 km. Saya lihat arloji, tepat jam 10. Berarti persis 24 jam, jauh diluar perkiraan GPS yang menginformasikan hanya 10 jam. Gerimis tipis menyambut kedatangan kami, menyegarkan badan sebagaimana QS Al Anfaal : 11. Meneguhkan pendirian setelah seharian berjalan untuk mengikuti aksi ini.
Saya tengok rombongan kafilah Bogor. Start jam 10 pagi ada ribuan peserta, hingga finish menyisakan ratusan orang. Wajar saja. Makanan dan minuman masih terlihat penuh di beberapa kendaraan pick up kami, tanpa tersentuh. Kami bagikan di lokasi aksi dekat Tugu Tani. 24 waktu tempuh perjalanan ini, perut gak masuk nasi, keringat sekujur badan membasahi. Luar biasa nikmatnya menjadi bagian dalam aksi ini.
Reflek tangan ini melihat satu kresek plastik besar yang terbungkus rapi. Saya buka, ooooh ternyata ada ratusan CD. Maaf, boro boro ganti, bahkan kami pun taksempat mandi…!
Subhanallah..
Alhamdulillah..
Allahu Akbar…!
#KamiTunaikanJanji
#KamiAlumni212
Fb Ustadz H. M.Rosyidi Aziz
______________________________________________________________________________________________________
3.  ADA ISTILAH BARU NYINYIERS
Catatan Dr. Iswandi Syahputra (Dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)
Demi Allah… baru kali ini saya melihat aksi demo hingga menangis. Saya tidak kuat menahan rasa haru, bahagia, bangga, gembira, dan sedikit amarah semua berbaur menjadi satu.
Awalnya saya ke Jakarta untuk wawancara narasumber riset saya. Tapi sebuah penerbit juga mengusulkan saya menulis buku tentang aksi 411 dan 212, lebih kurang membahas ‘Media Soslial dan Aksi Damai 4/212’. Karena kebetulan itu, saya bergerak hadir ke Monas pusat lokasi aksi 212.
Sambil menangis tersedu melihat aksi 212 saya telpon isteri untuk mengabarkan situasinya. Luar biasa, persatuan, kesatuan, kekompakan, persaudaraan, silaturrahmi umat Islam demikian nyata.
Pukul 07.00 WIB saya bergerak dari Cikini menuju Monas, ojeg yang saya tumpangi harus muter mencari jalan tikus. Semua jalan dan lorong mengarak ke Monas macet total. Perjalanan saya terhenti di Kwitang, dari Kwitang saya jalan kaki menuju Monas, hingga ke perempatan Sarinah. Saat sampai di Tugu Tani, dada saya mulai bergetar tak karuan. Seperti orang takjub tidak terkira. Umat Islam yang hadir saling mengingatkan untuk hati-hati, jangan injak taman, buang sampah pada tempatnya, segala jenis makanan sepanjang jalan gratis. Tidak ada caci maki seperti yang terjadi di sosial media. Saat itu sudah mulai perasaan berkecamuk, tapi masih bisa saya tahan.
Tepat di depan Kedubes AS, dada saya meledak menangis haru saat seorang kakek renta menawarkan saya buah Salak, gratis. Saya tanya, “Ini salak dari mana Kek?” “Saya beli sendiri dari tabungan”, jawabnya. Saya haya bisa terdiam dan terpaku menatapnya.
Di sebelahnya, ada juga seorang Ibu tua juga menawarkan makanan gratis yang dibungkus. Sepertinya mie atau nasi uduk. Bayangkan, Ibu itu pasti bangun lebih pagi untuk memasak makanan itu. Saya tanya, “Ini makanan Ibu masak sendiri?” “Iya”, jawabnya. “Saya biasa jualan sarapan di Matraman, hari ini libur. Masakan saya gratis untuk peserta aksi”. Masya Allah… Saya langsung lemes, mes, messss… Saya senakin lemes sebab obrolan kami disertai suara sayup orang berorasi dan gema suara takbir.
Dan., sepanjang jalan yang saya lalui, saya menemukan semua keajaiban Aksi Super Damai 212. Pijat gratis, obat gratis, klinik gratis, makan dan minum gratis. Perasaan lain yang bikin saya merinding, tidak ada jarak dan batas antara umat Islam yang selama ini kena stigma sosial buatan mereka para nyinyiers dan haters sebagai ‘Islam Jenggot’, ‘Islam Celana Komprang’, ‘Islam Kening Hitam’, ‘Islam Cadar’, ‘Islam Berjubah’ dan stigma negatif lainnya. Semuanya bersatu dalam: Satu Islam, Satu Indonesia, dan Satu Manusia!
Sepanjang perjalanan, saya mendengar antara peserta bicara menggunakan bahasa daerah Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Aceh, Minang bahkan ada juga yang berbahasa Tionghoa. Mungkin mereka saudara kita dari kalangan non muslim.
Melihat itu semua, “saya menyerah’, lagi-lagi saya menyerah!
Saya tidak kuasa menahan gejolak rasa yang bergemuruh dalam dada. Saya putuskan menepi, mencari kafe sekitar lokasi. Kebetelun saya punya sahabat baik yang pengelola “Sere Manis Resto dan Cafe”. Lokasinya strategis, pas di pojok Jl. Sabang dan Jl. Kebon Sirih. Tidak jauh dari bunderan BI dan Monas. Saya putuskan menyendiri masuk cafe itu untuk memesan secangkir kopi dan menyaksikan semua peristiwa dari layar TV dan Gadget yang terkadang diacak timbul tenggelam kekuatan sinyalnya.
Tapi di Resto/Cafe ‘Sere Manis’ itu juga saya temui umat Islam berkumpul membludak. Rupanya mereka antri mau mengambil wudhu yang disiapkan pengelola restoran. Tidak cuma itu, saya menemukan ketakjuban lain. Di dalam resto/cafe saya bertemu teman baru, seorang Scooter yang tinggal di daerah Cinere. Dia dan teman-temannya memilih berjalan kaki dari Cinere ke Monas (sekitar 40 KM) untuk merasakan kebahagiaan para santri yang berjalan dari Ciamis ke Jakarta. Masya Allah…. Saya semakin sangat kecil rasanya dibanding mereka semua. Ini kisah dan kesaksian saya tentang Aksi Super Damai 212. Mungkin ada ratusan atau ribuan orang seperti saya yang tidak terhitung atau tidak masuk dalam gambar aksi yang beredar luas. Kami orang yang lemah, tidak sekuat saudara kami yang berjalan kaki di Ciamis atau Cinere.
Maka, janganlah lagi menghina aksi ini. Apalagi jika hinaan itu keluar dari kepala seorang muslim terdidik. Tidak menjadi mulia dan terhormat Anda menghina aksi ini. Terbuat dari apa otak dan hati Anda hingga sangat ringan menghina aksi ini? Atau, apakah karena Anda mendapat beasiswa atau dana riset dari pihak tertentu kemudian dengan mudah menghina aksi ini?
Jika tidak setuju, cukuplah diam, kritik yang baik, atau curhatlah ke isteri Anda berdua. Jangan menyebar kebencian di ruang publik. Walau menyebar kebencian, saya tau kalian tidak mungkin dilaporkan umat Islam. Sebab umat Islam tau persis kemana hukum berpihak saat ini.
Terlepas ada kebencian dari para ‘nyinyiers’, saya bahagia bisa tidak sengaja ikut aksi damai 212 ini. Setidaknya saya bisa menularkan kisah dan semangat ini pada anak cucu saya sambil berkata: “Nak, saat kau bertanya ada dimana posisi Bapak saat aksi damai 2 Desember 2016? Bapak cuma buih dalam gelombang lautan umat Islam saat itu. Walau cuma buih, Bapak jelas ada pada posisi membela keimanan, keyakinan dan kesucian agama Islam. Jangan ragu dan takut untuk berpihak pada kebenaran yang kau yakini benar. Beriman itu harus dengan ilmu. Orang berilmu itu harus lebih berani. Dan mereka yang hadir atau mendukung aksi 212 adalah mereka yang beriman, berilmu dan berani. Maka jadilah kau mukmin yang berilmu dan pemberani anakku”.
 _____________________________________________________________________________________________________

Read the rest of this page »

Detoks ala JAFRA


Duh..kenapa ya pake jafra jadi jerawatan gini, bruntusan juga, malah jadi kusam dan menghitam. Kok jadi jelek gini siy? Huaaaaa…. Gak cocok kali yaa? Pernah dengar keluhan seperti itu dari orang-orang yang baru pakai skin care Jafra? Kalau saya siy udah ngga heran, soalnya udah ngalamin sendiri hehe..

Gejala-gejala seperti itu sering disebut rebound effect,  orang awam sering menyebutnya detoks. Biasanya gejala ‘rebound effect’ yang akan timbul adalah kulit kusam dan  keluar jerawat. Itu artinya krim racikan yang kita pakai menyebabkan ketergantungan. Biasanya dialami sama mereka yang pernah ada riwayat pakai krim racikan / krim dokter. Krim racikan itu biasanya mengandung bahan kimia yang relatif tinggi dosisnya, bahkan ada yang mengandung bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan hydroquinon. Bahkan ada beberapa kasus user skin care bermerk ada juga yang mengalami detoks.

Saran saya sebelum memakai produk Jafra sebaiknya hentikan pemakaian krim yang lama secara bertahap agar rebound effect-nya tidak terlalu berat. Misal mulai kurangi pemakaian krim malam secara perlahan yang tadinya pakai setiap malam secara bertahap kurangi menjadi 3 hari sekali, 5 hari sekali, seminggu sekali sampai benar2 lepas dari krim-krim tsb. Dan beri waktu kulit untuk beristirahat sekitar 2 minggu, lebih bagus lagi kalau bisa stop 2 bulan. Selama masa peralihan itu hanya pake sabun muka jafra saja dan secara bertahap ditingkatkan pemakaiannya ke krim pagi, lalu krim malam dan terakhir toner. Jadi tidak langsung dipakai secara bersamaan, biarkan kulit kita mengalami penyesuaian dan bila terjadi detoks tidak terlalu berat.

Sebagian orang tidak takut dengan proses detoks ini dan mereka sudah siap mental diawal. Dari cerita teman, ada user yang “bandel’ walaupun sedang detoks dia tetap pakai rangkaian dynamics set secara langsung (tidak bertahap). Yang terjadi user tsb mengalami detoks parah selama bbrp bulan, tapiiii pas ketemu kulitnya udah balik sehat lagi loooohh… Alhamdulillah.

Yang sering terjadi adalah para user ketika beralih dari krim racikannya ke jafra, mereka tidak memberikan jeda waktu yang cukup. Jadi ketika menggunakan jafra terjadi detoks, yang disalahkan adalah produk jafranya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah detoks tsb disebabkan pemakaian krim2 yang lama, racun2nya banyak yg mengendap dikulit. Ada kasus nih.. seorang ibu dengan riwayat memakai krim racikan selama 10 tahun, sekarang beralih ke Jafra, sesuai dugaan beliau mengalami detoks, sudah 4 bulan berjerawat dan kusam. Si ibu sering mengeluh dengan kondisi kulitnya dan selalu bertanya sampai kapan terus begini dan apakah bisa dipercepat proses detoksnya? hhmmm… saya cuma bisa bilang SABAR. Anggap aja proses detoks ini untuk membuang “dosa-dosa” selama 10 tahun pakai krim racikan. Detoks ini kan proses alami tubuh jadi saya sendiri tidak bisa memperkirakan sampai kapan bisa berhenti detoks. Ada cerita juga dari teman di grup yang mengalami detoks jerawatan selama 5 bulan. Alhamdulillah sekarang udah gak jerawatan lagi dan kulitnya udah bagus.

Bagi mereka yang tidak pernah memakai krim racikan, biasanya tidak mengalami reaksi detoks, aman-aman saja.  Saya melihat sendiri teman yang sehari-harinya memang tidak memakai krim racikan / krim dokter atau kosmetik abal-abal, ketika beralih memakai jafra kulitnya baik-baik saja dan progressnya lumayan cepat. Sebulan pemakain sudah mulai terlihat cerah alami.

Read the rest of this page »

JAFRA (part 2)


Nyambung tulisan yang kemarin yaaa.. saya mau sharing sedikit tentang Jafra berdasarkan pengalaman pribadi.

Oiya lupa bilang kalau Jafra itu ngga cuma skin care aja tapi ada perawatan tubuh, kosmetik dan parfum. Berhubung saya bukan tipe orang yang suka dandan, saya belum coba kosmetiknya Jafra. Cerita dari temen-temen yang udah nyoba, katanya foundation dan lipstiknya ringan di kulit. Kalau produk perawatan tubuhnya, saya udah coba body lotion (Royal Olive) wanginya enak banget. Produk home spa-nya juga juara, wanginya syukaaa.. Ginger sea salt body rub bagus banget buat scrub badan, sambil mandi digosok2 udahannya kulit berasa haluussss mulusss haha… Hair masknya bermanfaat untuk mengurangi rambut rontok dan bikin rambut halus, wanginya juga awet. Cocok untuk perawatan rambut bagi yang berhijab. Pepermint foot balm bagus banget untuk menghilangkan kulit pecah-pecah, juga enak dipakai di kaki kalo lagi pegel2, wanginya peppermint segar bikin relaks.

DETOKS
Kenapa ya setelah pemakaian skin care Jafra jadi muncul jerawat dan perubahan kulit? Jerawat dan perubahan kulit itu disebabkan oleh skin care yang dipakai sebelumnya, yang mungkin tanpa kita sadari mengandung bahan kimia berbahaya. Jafra bahan dasarnya herbal sehingga bisa mendetoks. Proses DETOKS kemungkinan besar akan dialami oleh mereka yang sebelumnya pernah memakai krim racikan yang mengandung bahan kimia berbahaya. Setiap orang mengalami proses detoks yang berbeda bisa jerawatan, bruntusan, menghitam, pori-pori membesar, dll. Lamanya juga berbeda ada yang hitungan minggu ada yang berbulan-bulan, tingkat keparahannya juga berbeda-beda tiap orang, tergantung riwayat pemakaian skin care sebelumnya. Mereka yang sebelumnya pernah memakai krim racikan, kemungkinan besar akan mengalami detoks. Semakin banyak racun yang mengendap dalam kulit kita maka semakin lama proses detoksnya. Kalau sebelumnya ngga pernah pakai krim macam-macam, kamu ngga perlu khawatir, insyaAllah aman.

Selama proses detoks berlangsung sebaiknya jangan terburu-buru beralih ke skin care / kosmetik sebelumnya. Kosmetik sebelumnya membuat kulit menjadi sensitif. Rawat kulit wajah hanya dengan sabun wajah (cleanser) sesuai jenis kulit. Pakai cleanser saja sekitar satu minggu, selanjutnya minggu kedua bisa ditambah krim pagi. Jadi pakainya bertahap yaaa… Kalau keluar jerawat jangan pakai macam-macam termasuk krim malam hentikan sementara sampai keadaan kulit membaik. Sebaiknya selama masa detoks jangan pakai macam-macam dulu, tunggu sampai proses detoks selesai baru boleh coba produk lainnya. Ini berdasarkan pengalaman saya pribadi looh.. Alhamdulillah it works. kalau ada pendapat lain, silakaannn🙂

Jangan takut yaa dengan proses detoks ini, justru dengan detoks ini sangat bermanfaat untuk mengeluarkan racun dari bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan hydroquinone. Kalau tidak dikeluarkan racun tersebut akan mengendap dalam tubuh kita dan baru bisa hilang setelah 27 tahun. Kosmetik racikan membuat kulit mulus dan putih karena mengandung merkuri dan hydroquinone. Kandungan zat-zat tersebut dapat merusak melanocyt yang dapat menghambat kerja enzim tyrosine yang bertugas memproduksi melanin. Mercury jugasering dipakai dalam bahan kosmetik krim wajahuntuk mempercepat proses pemutihan dan menghilangkan flek hitam diwajah. Salah satu resiko dari pemakaian merkuri dapat menyebabkan kanker kulit.

Read the rest of this page »

JAFRA (part 1)


Siapa siy yang ngga kepengen punya kulit wajah yang kinclong, bersih, cerah, mulus bebas jerawat. Pasti semua mau doong.. perempuan emang udah fitrahnya senang merawat diri dan menjaga penampilan, makanya banyak yang bela-belain perawatan rutin ke dokter atau klinik kecantikan demi punya kulit kinclong walaupun harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal termasuk saya hehe…

FYI, jenis kulit saya berminyak dan sangat sensitif, pakai produk kosmetik yang dijual dipasaran ngga ada yang cocok, karena itu selama lebih dari 5 tahun saya ketergantungan krim dokter. Dulu-dulunya juga pernah pakai krim racikan yang dijual di salon. Tapi ya gitu yang namanya krim racikan, kalo berhenti pake, kulit muka langsung kusam. Krim dokter juga sama.

Sekitar 1,5 tahun lalu saya punya masalah dengan jerawat yang membandel, ngga cuma satu dua biji tapi satu muka penuh jerawat sampai keleher-leher, ampuuunn maakkk… Saya coba perawatan di klinik langganan udah ngga ngefek, lebih dari 6 bulan treatment ini itu, pake krim ini itu, sempet gonta-ganti dokter juga tapi nggak ada hasilnya yang ada malah tambah parah. Akhirnya saya pindah ke klinik lain di daerah Tebet, sempet nyoba disitu lebih dari 6 bulan.  Daftar periksa sama dokter yang punya kliniknya bisa sampe 3 bulan. Saya ngga sabar kalo harus nunggu 3 bulan, jadi saya pilih dokter lain toh obatnya sama juga.

Berhubung saya lumayan sibuk (gaya sok sibuk haha :D) saya jadi kurang disiplin datang ke klinik. Pas jadwal kontrol atau facial saya ngga bisa datang. Lama-lama cape juga karena jauh dari rumah, belum lagi efek sampingnya. Kalau abis facial, selama beberapa hari satu muka merah-merah, kulit juga berasa jadi tipis. Saya juga ngga telaten pakai krimnya, suka males soalnya agak lengket2 gitu. intinya siy males hehe..

…………

Tadi kan udah cerita petualangan saya pakai krim racikan, naahhh sekarang saya mau ceritain si Jafra.

Aaahhh syukaaaa wangiiii.. aku jatuh cinta pada “ciuman” pertama.. dari wanginya aja udah bikin lope-lope pokoknyaa.. Begitulah kesan pertama saya waktu pertama kali pakai Jafra. FYI, kalo yang kemasan yang baru ini ngga wangi seperti yang lama. Oiya mungkin ada yang belum tau apa itu Jafra. Jafra itu produk perawatan kulit dan kosmetik yang pabriknya ada di Meksiko. Jafra udah 59 tahun dan masuk ke Indonesia baru tahun 2013. Keterangan lebih lanjut silakan googling aj yaaa🙂

Awalnya saya tau Jafra dari orang-orang yang promosi via BBM (broadcast, lihat profil pict orang) lama-lama saya penasaran juga. Akhirnya saya daftar member bulan April 2015 dan langsung coba pake produknya. Kebetulan krim dokter saya habis, waktu itu saya juga beleum sempet datang ke kliniknya untuk kontrol dan beli obat.

Read the rest of this page »

Hamil dan Melahirkan (part 2)


Masa kehamilan anak kedua tidak jauh berbeda dengan kehamilan pertama, cukup berat karena mual muntah yang parah ditambah maag yang sering kumat. Hamil anak kedua, saya diopname 2 kali, tri semester pertama dan kedua. 3 bulan pertama sama seperti kehamilan pertama, isinya uwek uwek pagi sampai malam. Ke kantor sering ijin, banyak bed rest karena ngga kuat maboknya. Awal-awal kehamilan saya ngga ngeh kalau hamil, saya kira mau haid karena sempat ngeflek so dokter ngasih obat penguat kandungan dan menyarankan untuk bed rest. Saat itu bertepatan dengan kegiatan International Conference on Population and FP di Jogjakarta, Alhamdulillah saya berkesempatan mempresentasikan paper saya di forum international tsb. Akhirnya saya berangkat dengan kegalauan hati, khawatir takut keguguran. Alhamdulillah selama di Jogja semua berjalan lancar dan baik-baik saja, saya pulang lebih cepat dari jadwal supaya bisa lebih banyak waktu istirahat di rumah.

Tri semester kedua kondisi semakin membaik, mual muntah berkurang bahkan masuk semester ketiga saya masih kuat bepergian, malah hamil 30 minggu masih sempet dinas keluar kota beberapa kali naik pesawat, Alhamdulillah perjalanan lancar-lancar aja, kayanya si debay seneng diajak melancong hehe 
Selama kehamilan kedua saya periksa di RS Hermina Bekasi sama dokter….sempet nyoba juga periksa di RS Awal Bros Bekasi sama dr. … pas periksa pertama di Awal Bros dokternya bilang, bayi saya terlilit tali pusat, so ada kemungkinan nanti harus dioperasi. Setelah itu sempet periksa lagi ke dokter lain, beliau juga bilang bayi saya terlilit. Masih penasaran saya periksa lagi ke dokter di Hermina Bekasi, dokter laki-laki, saya lupa namanya. Beliau bilang jangan khawatir karena banyak pasiennya yang bisa lahiran normal walopun bayi terlilit tali pusat.

Masuk hamil 7 bulan, saya memutuskan untuk pindah ke RS. Awal Bros dengan pertimbangan biaya persalinan yang ditanggung askes. Kebetulan waktu itu suami baru pindah kerja, asuransi untuk melahirkan belum discover karena baru beberapa bulan kerja. Syukurnya, Awal Bros Bekasi waktu itu masih kerjasama dengan Askes, Alhamdulillah banget bisa dapat kelas 1. Walaupun pakai Askes tapi pelayanannya cukup bagus, tidak ada perbedaan dengan pasien swasta. Beberapa bulan setelah saya melahirkan Awal Bros memutuskan kontraknya dengan Askes.

Read the rest of this page »

Hamil dan Melahirkan (part 1)


Banyak yang bilang melahirkan itu perjuangan antara hidup dan mati, rasanya dahsyat luar biasa sodara-sodara *tarik napas. Dua kali hamil dan melahirkan dengan kehamilan yang berat dan proses melahirkan yang sulit, membuat saya trauma hiks…

Hamil anak pertama saya mengalami mual muntah yang parah, hyperemesis bahasa kerennya. Selama 9 bulan kehamilan saya harus opname 3 kali, jadi pasien langganan RS Hermina Bekasi. Tri semester pertama BB saya turun 4 kg. Mabok berat, cuma bisa tiduran. Makan susah, minum susah, apalagi yang namanya air putih bikin eneg banget. Dikit-dikit muntah mulai dari bangun tidur pagi kadang sampai lewat tengah malam masih uwek uwek , keluarnya gak ketahan kalo ke kamar mandi ngga keburu, akhirnya sedia ember samping tempat tidur. Mual dan muntah terus berlangsung sampai hamil 9 bulan, tapi frekuensinya semakin berkurang. Kehamilan 6 bulan saya sudah mulai bisa makan, udah bisa jalan-jalan, walaupun kadang ditengah perjalanan saya gak tahan, muntah dipinggir jalan.

Kehamilan saya semakin berat karena sakit maag saya sering kambuh. Asam lambung sering naik, sakitnya nauduzubillah.. Hamil 5 bulan saya opname ke-2 kalinya, maag kumat sakitnya seperti tertusuk, perut kembung bahkan tarik napas pun sakitnya tak terkira. Hamil 8 bulan saya opname yang ke-3 kalinya. Waktu itu lagi ikut pelatihan di Bandung, setelah subuh maag saya kumat lagi, dari hotel dengan naik taksi saya ditemani teman ke RS Hermina Pasteur Bandung. Di RS langsung masuk IGD, periksa CTG dsb, dokter bilang kandungan saya ikut kontraksi, ada kemungkinan harus lahir Caesar. Ya Allah..udah mana sendirian di RS, keluarga semua di Bekasi. Alhamdulillah siangnya, suami saya datang, lumayanlah udah ada yang nemenin. Opname ketiga ini adalah yang paling berat buat saya apalagi perut yang sudah besar. Sakitnya luar biasa, perut kembung karena gas, tarik napas pun sakit, muntah terus-terusan sampai keluar cairan kuning dan hijau. Beruntung suster-suster di RS Hermina Pasteur,baik-baik dan sabar-sabar bangettt.. Sekitar 2 hari saya tidak boleh makan dan minum, bibir sampai kering berdarah, dokter sengaja suruh ‘puasa’. Walaupun diinfus badan lemessss dan capee karena muntah2 hiks…

Read the rest of this page »

Sehat dengan Akupuntur


Namanya Pak Kim, laki-laki chinese berperawakan kurus dan tinggi,  berusia sekitar 50 tahun ini berprofesi sebagai terapis akupuntur. Beliau punya pengalaman puluhan tahun dalam bidang pengobatan akupuntur.  Setiap hari Pak Kim bersama istrinya buka praktek di rumahnya di jalan Kawi-kawi atas no. 1 mulai jam 8 pagi sampai jam 12 siang, kecuali hari Rabu dan Minggu tutup. Lokasi rumahnya tidak jauh dari stasiun Kramat Sentiong, Jakarta Pusat.

Rumah Pak Kim tidak pernah sepi dari para pasien yang datang dari Jakarta dan sekitarnya bahkan luar kota. Saya mengenal Pak Kim dari tetangga yang rutin membawa ibunya terapi. Atas rekomendasi tetangga, saya membawa bapak saya untuk terapi akupuntur. FYI, bapak saya pernah kena stroke, tadinya bapak masih bisa jalan dan naik turun tangga sendiri, walaupun jalannya tidak seperti orang normal. Beberapa bulan terakhir ini kondisinya menurun, bapak sering jatuh karena kakinya tidak kuat lagi menopang tubuhnya. Kaki bapak semakin mengecil, otot-ototnya melemah karena selama ini tidak aktif bergerak. Seharian penuh aktifitas bapak dihabiskan diatas tempat tidur, itu sebabnya lama-kelamaan ototnya memendek dan mengecil. Saya membawa bapak ke rumah Pak Kim dengan harapan bapak bisa jalan lagi.

Beberapa kali terapi akupuntur itu, bapak mulai ada kemajuan. Pertama kali datang, Pak Kim bilang saraf kaki bapak saya kondisinya masih bagus hanya saja perlu dilatih rutin sehari beberapa kali belajar jalan. Saat mengobati, Pak Kim selalu menyemangati dan memotivasi para pasiennya. Pak Kim dan istrinya juga sabar menghadapi para pasien.

Read the rest of this page »

Pelajaran Ikhlas dari Tukang Ojek


Siapa yang belum pernah naik ojek? Kalau saya siy… ( sambil gaya sombong haha..) hampir tiap hari berangkat dan pulang kerja naik ojek. Perjalanan dari rumah ke kantor diawali dengan naik angkot ke stasiun trus dilanjut Commuter line dan angkot  lagi  dan terakhir ngojek dari jalan raya ke lokasi kantor yang agak di dalam (beginilah nasib tinggal di planet Bekasi, jauh pisan ke kantor hahaa…) Sebenernya ada angkot tapi saya lebih seneng naik ojek karena langsung turun depan lobby, kalau naik angkot mesti jalan lagi ke gedung belakang yang lumayan jauh, judulnya males jalan kaki hehe..

Bedewey eniwey jekwey (karena naik ojek jadi jekwey, bukan buswey hehe maksa.com) ceritanya minggu lalu saya ada training di menara 165 jalan TB. Simatupang. Tadinya rencana mau bawa kendaraan sendiri karena jarak dari rumah saya ke Cilandak kalo jalanan lancar setengah jam insyaAllah bisa sampai, tapi setelah dipikir2 kayanya saya ngga sanggup kalo mesti nyetir dari Bintara sampai Cilandak melewati JORR di pagi hari yang macet cet. Akhirnya seperti biasa saya mengandalkan kereta. Dari stasiun Cakung transit di Manggarai trus naik kereta yang ke arah Depok turun di St. Tanjung Barat. Nah..dari stasiun Tanjung Barat ke TB. Simatupang masih agak jauh, jadi langsung deh lanjut naik ojek biar cepet sampai.

Hari pertama dan kedua training saya naik ojek menuju lokasi menara 165. Hari pertama, si abang ojek lewat “jalur tikus” untuk menghindari macet. Lumayan cuci mata lihat rumah gedongan di daerah Kebagusan, hehe… Sambil lewat sambil baca shalawat, siapa tau aja beberapa tahun kedepan saya bisa punya rumah kayak gitu juga, aamiin.. Ikutin tipsnya Ustad Yusuf Mansur kalo lihat yang bagus-bagus dan cakep-cakep bacain shalawat aja deh..mudah-mudahan Allah kasih kita rejeki yang kayak gitu bahkan lebih, aamiin..aamiin ya Allah..

Hari kedua training, pas mau naik ojek saya tanya sama abangnya, bang berapa ke menara 165? Saya harus pastiin donk tarifnya supaya gak dimahalin, standarnya siy 30 ribu.  Si abang bukannya  nyebutin ongkosnya berapa, eh dia cuma ngangguk trus suruh saya naik. Udah gitu dia lewatin jalur yang beda sama abang ojek kemarin. Sempat ngeri-ngeri juga siy, soalnya lewatin kebun-kebun anggrek yang luas banget yang ternyata itu punyanya UPT. Dinas pertamanan DKI. Si abang ojek ambil jalan pintas masuk ke kesitu eeh taunya nembus di pintu Kebun Binatang Ragunan. Lumayan muter-muter tapi Alhamdulillah nyampe juga di 165.

Read the rest of this page »

Pelajaran Hebat dari Bapak Tua Penarik Becak dan Nenek Buta


Dua hari (berturut-turut) ini saya dapat pelajaran hidup yang sangat berkesan dari seorang bapak tua penarik becak di komplek perumahan tempat saya tinggal dan satunya lagi dari dua orang nenek-nenek buta yang saya temui di stasiun Bekasi siang ini. Let me share yaa..

Jumat sore kemarin saya dan anak-anak pergi ke penjahit dekat rumah dengan naik becak, kebetulan abang becaknya seorang bapak tua. Tidak ada yang special dengan si bapak penarik becak tersebut, namun ‘pesan’ si bapak tua itu cukup mengetuk hati saya. Mau tau pesan si bapak tua itu? Mau tau apa mau tau bangeett hehe.. Begini pesannya (back sound jeng.. jeng.. jeng..)

Sebelum turun dari becak, saya bilang sama si bapak untuk menunggu saja jadi saya tidak perlu repot-repot cari becak lagi. Nah.. waktu saya turun dari becak, si bapak tua itu pesan sama saya “bu..jangan lama-lama ya, saya mau ngejar sholat magrib berjamaah di masjid, sayang kalau ngga sholat jamaah”.

Hah..saya ngga nyangka kalo si bapak sangat khawatir tertinggal sholatnya. Pesan yang sangat jleb jleb buat saya. Tidak disangka seorang bapak tua penarik becak, tidak mau ketinggalan sholat on time dan berjamaah di masjid, subhanallah… Saya langsung speechless dibuatnya dan bergegas masuk ke dalam rumah penjahit.

Sesuai janji saya, 15 menit kemudian urusan saya sudah selesai. Di perjalanan menuju pulang ke rumah, saya mengobrol dengan si Bapak (ceritanya in depth interview in a few minutes hehe). Agak sulit berkomunikasi dengan si bapak karena sepertinya pendengarannya agak kurang baik, mungkin karena faktor usia. Ada beberapa jawaban yang ngga nyambung yang membuat saya harus menahan tawa. Si bapak sudah hampir 10 tahun merantau narik becak di Bekasi, sedangkan keluarga menetap di Semarang. Saya bilang sama si bapak, kalo pulang kampung naik kereta saja, tapi si bapak bilang repot beli tiketnya. Saya kasih tau si bapak kalau sekarang bisa beli tiket kereta di Indomaret. Eh..si bapak malah jawab iya kalau sore saya sering mangkal samping Indomaret,hahaha…

Read the rest of this page »

Kisah Hijabku


maxresdefault

 

Tak terasa 14 tahun sudah hidup dengan berhijab.

Saat hidayah itu datang.

Perintah Allah tak bisa lagi ditolak.

Berbekal satu stel seragam (bekas) muslim putih abu-abu

dan jilbab pemberian teman.

Tidak pakai ‘tapi’ dan tidak pakai ‘nanti’

untuk memulai ‘hidup baru’ sebagai bukti ketaatan pada Tuhan.

 

Walaupun orang tua dan keluarga dekat menentang dan mencela

melihat jilbab panjang, rok lebar dan kaos kaki dipakai sehari-hari.

Kampungan, kuno, ribet dan segala cemoohan saya terima.

Sedih dan perih terasa, tapi tak membuat hati ini goyah.

Sampai tiba pada suatu waktu, akhirnya mereka menerima.

 

Dulu orang tua khawatir kalau anaknya berhijab akan sulit dapat pekerjaan,

dan lama dapat jodohnya. Tapi semua itu tidak terbukti.

Lulus sekolah diterima di PTN, malah sudah bekerja saat masih jadi mahasiswa.

Menikah di usia 22, hingga kemudian lanjut lagi sekolah S2 dengan beasiswa, alhamdulillah.

Allah pasti menepati janji-Nya. Dia memudahkan segala-Nya.

 

Tak ada keraguan lagi, karen perintah berhijab sudah jelas di dalam Al-Qur’an.

Pernah mengalami surutnya keimanan, mengganti penampilan dengan celana panjang.

Namun akhirnya menyadari kembali, bahwa perintah hijab syar’i terlalu indah untuk diingkari.

Read the rest of this page »

Air Kangen.. Air Sehat.. Air “Ajaib” !!


Pertama kali dengar nama Kangen Water pada waktu saya ikut training WBT bulan Februari 2013. Saya pikir ini hanya air oksigen biasa seperti mer-merk lainnya. Saya juga sempat berpikir kenapa namanya “Kangen”, apa maksudnya supaya orang-orang yang beli merasa kangen dan akan beli lagi dan lagi. Setelah dijelaskan sama teman saya,ternyata ‘kangen’ itu bahasa Jepang dibaca ‘kang-gen’ yang artinya ‘back to original’. Waktu itu saya tidak terlalu tertarik karena itu tadi saya pikir air biasa. Berbulan-bulan kemudian sekitar bulan November, saya ketemu lagi sama si Kangen Water ( KW ).

Suatu malam suami saya pulang kerja bawa KW dua galon kecil, beli dari temannya katanya bagus untuk kesehatan. Nah kebetulan waktu itu bapak saya baru saja keluar dari RS, sebenarnya siy belum boleh pulang karena kondisinya masih sakit tapi karena Bapak merasa bosan dan tidak nyaman, dia minta pulang. Bapak sakit stroke (untuk yg ketiga kalinya). Bapak cuma bisa terbaring lemah, kakinya terasa sangat sakit dan seperti tidak bertenaga. Walaupun sudah di rumah, bapak belum bisa beraktivitas apapun. Bahkan masih pipis lewat kateter.

Beberapa hari pulang dari RS, bapak kencing darah. Kantong urinnya berwarna merah darah persis seperti kantong donor darah. Bapak juga mengeluh kalo pipis sakit. Sedih lihat kondisi bapak seperti itu. Saking ngerinya lihat urin bapak yg bercampur darah, saya sampai ngga tega mau foto kantong urinnya. Saya cuma bilang ke bapak, mungkin itu pengaruh pakai kateter. Kami berusaha menutupi kekhawatiran bapak, padahal kami juga takut melihatnya. Kami berpikir, kalo bapak dibawa lagi ke RS pasti harus opname.

Read the rest of this page »