Dunia sementara, akhirat selamanya. Semoga Allah mudahkan kita semua utk taat dan istiqomah dijalan-Nya. Kelak kita berkumpul di Jannah-Nya, aamiin ya Rabb..

Archive for March, 2011

Lentera Jiwa


Lama sudah kumencari

Apa yang hendak kulakukan

Segala titik kujelajahi

Tiada satupun ku mengerti

Tersesatkah aku di samudera hidup

Kata-kata yang kubaca terkadang tak mudah kucerna

Bunga-bunga dan rerumputan bilakah kau tau jawabnya

Inikah jalanku inikah takdirku

Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati

yang selalu membunyikan cinta

Kupercaya dan kuyakini murninya nurani

Menjadi penunjuk jalanku, lentera jiwaku

(A song by Nugie)

Cekidot video klipnya di sidebar dan perhatikan baik2 :))

Advertisements

Quote of the Day


“Tidak ada diantara kita yang suci. Tapi, berusaha mensucikan diri itu indah.” (Mario teguh)


Kapan Pakai Hijab?


Sore ini tiba2 saya teringat seorang teman SMA yang menasehati saya tentang jilbab. Suatu hari dia bertanya pada saya “Kapan lo pake jilbab?”. “Nantilah kalau gue masuk UI” jawab saya enteng. “Kalau nggak keterima di UI gimana? trus kalo meninggal belum sempat pake jilbab gimana?”  Pertanyaan2 teman saya itu benar2 membuat saya membungkam, bingung mau jawab apa. Walaupun perkataannya terkesan “galak”, dalam hati saya membenarkan perkataannya tersebut. Alhasil setelah perbincangan singkat tersebut, hati saya tidak tenang dan merasa bersalah. Iya ya.. kenapa harus menunggu masuk UI baru pake jilbab, kenapa tidak secepatnya. Iya kalo jadi masuk UI, kalo ngga gimana? pake hijabkan kewajiban bagi muslimah bukan nazar.

 

ilustrasi

Tidak lama setelah itu, saya mulai mencoba mengenakan pakaian muslimah (berjilbab). Saat itu saya cuma punya 3 potong bergo pemberian sepupu saya beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya belum langsung menggunakan jilbab seutuhnya, saya hanya memakainya pada saat saya pergi ke tempat kursus bahasa inggris, ke sekolah belum. Semakin lama tekad saya untuk berhijab sempurna semakin kuat. Hanya 1 bulan sebelum lulus dari SMA saya memutuskan untuk berhijab. Seorang teman memberikan rok panjangnnya dan saya memakai bergo putih pemberian guru mengaji saya. Dengan modal pakaian muslimah “seadanya” saya mantapkan hati untuk menutup aurat saya kapanpun dan dimanapun. Walaupun dirumah sendiri saya tetap berhijab jika ada laki2 yang bukan mahram saya.

Sepuluh tahun yang lalu saat pertama kali saya mengutarakan keinginan untuk berhijab kepada orang tua,  masih membekas diingatan saya betapa bapak saya menentang saya memakai hijab, begitu pun ibu saya. Meskipun ditentang oleh orang tua sendiri saya tetap bersikukuh menjalankan perintah Allah ini. Alhamdulillah lama kelamaan orang tua saya pun bisa menerima penampilan anak yang serba tertutup. Mereka mulai mendukung, ibu saya membelikan banyak pakaian2 muslimah untuk saya pakai ke kampus dan bapak saya lama-lama capek sendiri dengan komentar2 miringnya terhadap jilbaber. Dulu bapak saya suka protes melihat saya memakai rok panjang menurut beliau itu menyusahkan saya ketika naik dan turun bis. Belum lagi cemoohan tante saya yang bilang saya kampungan dengan penampilan berjilbab.  Tetapi saya tetap pada pendirian saya, alhamdulillah tidak terasa sudah 10 tahun lebih saya menjalankan perintah Allah untuk menutup aurat, semoga tetap istiqomah hingga hari akhir nanti, amin ya rabbal alamin.

Saya juga teringat sebuah kisah dari seorang teman yang bercita-cita menjadi pramugari. Cita-citanya menjadi pramugari tidak kesampaian. Bukan karena dia kurang cantik atau kurang menarik tetapi justru karena Allah sayang padanya.  Allah memberikan hidayah tepat pada saat dia diterima menjadi pramugari di salah satu maskapai penerbangan terkemuka nasional. Dia rela meninggalkan pekerjaan barunya, dia ikhlas cita2nya pupus begitu saja.  Dia memutuskan mengundurkan diri karena pertimbangan “aurat”. Menurutnya lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan rahmat dan kasih sayang Allah. Ia sangat menyadari bahwa pekerjaan tersebut hanya akan membuatnya menjadi wanita yang auratnya menjadi “tontonan” banyak laki2 yang bukan mahramnya. Apalah artinya gaji yang tinggi jika harus mengorbankan paha, betis dan  tubuh yang dibalut pakaian super ketat menjadi pemandangan gratis di depan publik. “Pekerjaannya halal sih..tapi kan belum tentu berkah” itu katanya.

(more…)


Pencerahan dari Kang Abik


 

Habiburrahman El Shirazy di Canberra

Ahad, 6 Maret 2011 bertempat di KBRI di Canberra, saya berkesempatan mengikuti acara pelatihan menulis yang diadakan oleh FLP (Forum Lingkar Pena) cabang Australia. Yang menjadi nara sumber pada acara tersebut adalah seorang penulis handal yang karya-karyanya sangat booming di Indonesia. Beliau adalah Habiburrahman El Shirazy atau biasa disapa Kang Abik, seorang penulis novel-novel islami yang sangat terkenal seperti Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih.

Saya sangat beruntung bisa menghadiri acara tersebut karena banyak hal yang sangat berguna yang saya dapatkan dari penulis favorit saya, terutama tentang tips-tips menjadi penulis best seller dan teknik-teknik menulis novel best seller. Dari sekian banyak pelajaran yang diberikan, ada dua hal yang sangat berkesan dihati saya, yaitu pelajaran tentang “keberanian untuk menulis” dan “definisi menulis”.

Menurut Kang Abik, ada 4 kategori penulis berdasarkan tingkat keberaniannya:

1. Kurang berani dan kurang pertimbangan.

Orang yang berada dalam zona ini adalah orang yang tidak punya modal menjadi penulis yang handal dan masuk dalam zona lemas. Orang tsb tidak akan pernah menulis karena selalu takut dan kurang pertimbangan.

2. Terlalu banyak pertimbangan tapi tidak berani.

Ada orang yang terlalu banyak pertimbangan sebelum menulis. Orang dalam kategori ini terlalu mempertimbangkan aturan-aturan dalam menulis, tata bahasa dsb tetapi tidak ia berani menulis. Orang seperti ini cocoknya menjadi kritikus. Lebih handal dalam mengkritisi tulisan orang lain tetapi tidak punya keberanian untuk menulis.

3. Keberaniannya luar biasa tetapi kurang pertimbangan.

Zona ini adalah zonanya orang-orang nekat. Hampir semua penulis handal memulainya dari zona ini. Yang penting adalah menulis dulu, EYD atau tata bahasa nomor sekian. “Tidak usah banyak bicara, yang penting nulis dulu”, kata Kang Abik. Ia sendiri mengakui dirinya adalah penulis di zona ini. Latar belakang Kang Abik adalah ilmu hadist yang nota bene adalah sangat jauh dari ilmu sastra atau tulis menulis. Dengan berbekal keberanian yang luar biasa, ia telah membuktikan bahwa menulis tidak harus orang yang berbakat atau berilmu sastra, siapapun bisa asalkan mau mencoba dan terus belajar.

4. Keberanian tinggi dan Pertimbangan luas.

Orang yang masuk dalam kategori ini adalah orang yang tulisannya dalam dan ilmunya sudah matang serta selalu ada hal-hal baru dari karyanya.

(more…)