Dunia sementara, akhirat selamanya. Semoga Allah mudahkan kita semua utk taat dan istiqomah dijalan-Nya. Kelak kita berkumpul di Jannah-Nya, aamiin ya Rabb..

Islam

Kisah Hijabku


maxresdefault

 

Tak terasa 14 tahun sudah hidup dengan berhijab.

Saat hidayah itu datang.

Perintah Allah tak bisa lagi ditolak.

Berbekal satu stel seragam (bekas) muslim putih abu-abu

dan jilbab pemberian teman.

Tidak pakai ‘tapi’ dan tidak pakai ‘nanti’

untuk memulai ‘hidup baru’ sebagai bukti ketaatan pada Tuhan.

 

Walaupun orang tua dan keluarga dekat menentang dan mencela

melihat jilbab panjang, rok lebar dan kaos kaki dipakai sehari-hari.

Kampungan, kuno, ribet dan segala cemoohan saya terima.

Sedih dan perih terasa, tapi tak membuat hati ini goyah.

Sampai tiba pada suatu waktu, akhirnya mereka menerima.

 

Dulu orang tua khawatir kalau anaknya berhijab akan sulit dapat pekerjaan,

dan lama dapat jodohnya. Tapi semua itu tidak terbukti.

Lulus sekolah diterima di PTN, malah sudah bekerja saat masih jadi mahasiswa.

Menikah di usia 22, hingga kemudian lanjut lagi sekolah S2 dengan beasiswa, alhamdulillah.

Allah pasti menepati janji-Nya. Dia memudahkan segala-Nya.

 

Tak ada keraguan lagi, karen perintah berhijab sudah jelas di dalam Al-Qur’an.

Pernah mengalami surutnya keimanan, mengganti penampilan dengan celana panjang.

Namun akhirnya menyadari kembali, bahwa perintah hijab syar’i terlalu indah untuk diingkari.

(more…)


Apa yang Kita Banggakan ?


Image

Apa yang kita banggakan di dunia ini?

Wajah cantik dan rupawan, Jabatan , Pendidikan tinggi,  popularitas, atau harta, rumah dan kendaraan mewah?

Dunia tidak akan ada habisnya dikejar

Kehidupan akhirat sudah pasti adanya

Berbangga-bangga di dunia, jika niatnya bukan lillah

Hanya kebahagiaan semu yang didapat.

Ibadahpun belum sempurna, amal baik juga teramat sedikit.

Bermanfaat untuk orang banyak juga belum.

Malah sebaliknya, cari muka didepan manusia.

Mendekat pada Allah pakai ‘nanti’ pakai ‘tapi’

Berbuat maksiat tiada takut.

Padahal mati datangnya pasti

Saat diri ini masih berlumur dosa, ada Allah yang menutupi segala aib.

Lalu apa yang kita banggakan?  Jika bekal diakhirat belum siap.

Sedang pada saat wafat nanti, tidak ada yang dibawa kecuali amal baik, doa anak yang soleh, serta ilmu yang bermanfaat.

*nasihat untuk diri sendiri


Aku Bangga Pakai Hijab


Hari ahad tanggal 7 April 2013, saya berkesempatan mengikuti acara launching KHAS (Komunitas Hijab Syar’i) yang diprakarsai oleh Ust. Felix Siauw dan Hijab Alila sebagai penyelenggaranya. Saya sendiri diminta tolong panitia menjadi moderator talk show bersama dua orang pembicara Aisha Maharanie (founder @halalcorner) dan Emeralda (@benefiko muslimah yang berprofesi sebagai desain grafis )

Acara ini sangat berkesan buat saya karena begitu banyak manfaat dan inspirasi yang saya dapatkan dari para pembicara dan juga dari Ustad Felix Siauw. Keteguhan hati untuk tetap istiqomah memakai hijab semakin menguat setelah mengikuti acara ini. Pakailah hijab karena Allah bukan karena manusia atau alasan lainnya, statement dari mbak Aisha Maharanie tersebut sangat mengena dihati saya mungkin begitu juga dengan muslimah lainnya yang hari itu hadir di Auditorium Universitas Al Azhar.

@adisyanah is on the stage *narsis hehe.. :)

@adisyanah is on the stage *narsis hehe.. 🙂

Berbicara tentang hijab saya kembali mengingat pengalaman saya pertama kali memakai hijab sekitar 13 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih SMA dan sempat mengalami pertentangan dari orang tua saya sendiri, terlebih pada saat menjadi mahasiswa saya mengenakan rok dan jilbab panjang. Dari mulai diolok-olok kampungan sampai dibilang ribet kalau naik bis karena pakai rok panjang. Niat saya untuk menutup aurat sangat kuat, walaupun orang-orang terdekat saya mencemooh saya tetap maju terus pantang mundur dan saya tetap bangga dengan berhijab J. Alhamdulillah, setelah sekian lama orang tua saya bisa menerima saya dengan hijab saya, bahkan adik-adik dan ibu saya akhirnya mengikuti jejak saya memakai hijab. Yang penting kita tetap hormat sama orang tua dan bersikap sebaik mungkin.

(more…)


Tak Cukup Hanya Cinta


Dicopas dari http://crito.jw.lt/Cinta/Tak%20Cukup%20Hanya%20Cinta

“Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?”, sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami masing-membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.

“Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri”, jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. “Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim”, raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.

“Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu”, tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. ” Nggak papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama nggak ngobrol-ngobrol”, jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang masih satu komplek dengan Mesjid.
Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.

“Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama”, mbak Artha mulai bertutur. “Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar. Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah”.
“Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?”, tanyaku penasaran. “Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat perbuatanku sendiri”

“Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga bukan akhwat dhek, aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya baik”, papar mbak Artha sambil tersenyum getir.
(more…)


Kapan Pakai Hijab?


Sore ini tiba2 saya teringat seorang teman SMA yang menasehati saya tentang jilbab. Suatu hari dia bertanya pada saya “Kapan lo pake jilbab?”. “Nantilah kalau gue masuk UI” jawab saya enteng. “Kalau nggak keterima di UI gimana? trus kalo meninggal belum sempat pake jilbab gimana?”  Pertanyaan2 teman saya itu benar2 membuat saya membungkam, bingung mau jawab apa. Walaupun perkataannya terkesan “galak”, dalam hati saya membenarkan perkataannya tersebut. Alhasil setelah perbincangan singkat tersebut, hati saya tidak tenang dan merasa bersalah. Iya ya.. kenapa harus menunggu masuk UI baru pake jilbab, kenapa tidak secepatnya. Iya kalo jadi masuk UI, kalo ngga gimana? pake hijabkan kewajiban bagi muslimah bukan nazar.

 

ilustrasi

Tidak lama setelah itu, saya mulai mencoba mengenakan pakaian muslimah (berjilbab). Saat itu saya cuma punya 3 potong bergo pemberian sepupu saya beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya belum langsung menggunakan jilbab seutuhnya, saya hanya memakainya pada saat saya pergi ke tempat kursus bahasa inggris, ke sekolah belum. Semakin lama tekad saya untuk berhijab sempurna semakin kuat. Hanya 1 bulan sebelum lulus dari SMA saya memutuskan untuk berhijab. Seorang teman memberikan rok panjangnnya dan saya memakai bergo putih pemberian guru mengaji saya. Dengan modal pakaian muslimah “seadanya” saya mantapkan hati untuk menutup aurat saya kapanpun dan dimanapun. Walaupun dirumah sendiri saya tetap berhijab jika ada laki2 yang bukan mahram saya.

Sepuluh tahun yang lalu saat pertama kali saya mengutarakan keinginan untuk berhijab kepada orang tua,  masih membekas diingatan saya betapa bapak saya menentang saya memakai hijab, begitu pun ibu saya. Meskipun ditentang oleh orang tua sendiri saya tetap bersikukuh menjalankan perintah Allah ini. Alhamdulillah lama kelamaan orang tua saya pun bisa menerima penampilan anak yang serba tertutup. Mereka mulai mendukung, ibu saya membelikan banyak pakaian2 muslimah untuk saya pakai ke kampus dan bapak saya lama-lama capek sendiri dengan komentar2 miringnya terhadap jilbaber. Dulu bapak saya suka protes melihat saya memakai rok panjang menurut beliau itu menyusahkan saya ketika naik dan turun bis. Belum lagi cemoohan tante saya yang bilang saya kampungan dengan penampilan berjilbab.  Tetapi saya tetap pada pendirian saya, alhamdulillah tidak terasa sudah 10 tahun lebih saya menjalankan perintah Allah untuk menutup aurat, semoga tetap istiqomah hingga hari akhir nanti, amin ya rabbal alamin.

Saya juga teringat sebuah kisah dari seorang teman yang bercita-cita menjadi pramugari. Cita-citanya menjadi pramugari tidak kesampaian. Bukan karena dia kurang cantik atau kurang menarik tetapi justru karena Allah sayang padanya.  Allah memberikan hidayah tepat pada saat dia diterima menjadi pramugari di salah satu maskapai penerbangan terkemuka nasional. Dia rela meninggalkan pekerjaan barunya, dia ikhlas cita2nya pupus begitu saja.  Dia memutuskan mengundurkan diri karena pertimbangan “aurat”. Menurutnya lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan rahmat dan kasih sayang Allah. Ia sangat menyadari bahwa pekerjaan tersebut hanya akan membuatnya menjadi wanita yang auratnya menjadi “tontonan” banyak laki2 yang bukan mahramnya. Apalah artinya gaji yang tinggi jika harus mengorbankan paha, betis dan  tubuh yang dibalut pakaian super ketat menjadi pemandangan gratis di depan publik. “Pekerjaannya halal sih..tapi kan belum tentu berkah” itu katanya.

(more…)