Life, love and passion

Inspiring Stories of Aksi Bela Quran 212


Aksi super damai bela quran tanggal 2 Desember 2016 menjadi peristiwa fenomenal di Indonesia bahkan di dunia. Siapa yang tidak bergetar hatinya saat menyaksikan foto-foto dan video para santri dari Ciamis yang melakukan long march ke Jakarta. Siapa yang tidak merinding melihat lebih dari 7 juta orang memadati Monas sampai ke daerah Menteng bahkan ada yang melaporkan peserta penuh sampai ke Cempaka Putih.

Timeline socmed pun penuh dengan berita kedahsyatan aksi bela quran 212. Semua orang (muslim) di Indonesia seperti berlomba-lomba meng-update status dan men-share berita2 tentang aksi 212. Apalagi yang ikutan aksi, susah move on nyaa, kayak sayah gak ada bosen-bosennya, masyaAllah..

Etapi.. ada juga looh muslim yang nyinyir bin gak suka dengan aksi bela quran 212.  Mungkin mereka orang-orang yang munafik seperti yang Allah sebutkan dalam Al-Maidah 52, naudzubillah…  Semoga kita semua termasuk generasi Al-Maidah 54, aamiin..

Peristiwa bersejarah ini sayang untuk dilewatkan begitu saja. Oleh karena itu, saya mencoba merangkum beberapa tulisan yang saya copas dari grup WA. Semoga menginspirasi banyak orang dan menjadi ladang pahala bagi penulisnya  aamiin..

Selamat membaca dan semoga kita bisa mengambil ibroh dari tulisan berikut.

____________________________________________________________________________________________________________

  1. Santri 8 Thn Ikut Long March: “Saya Gantikan Bapak Yang Sudah Tiada untuk Jihad…”*
Renungan bagi kita dan para orangtua….

SEBUAH KESAKSIAN LONG MARCH CIAMIS – JAKARTA (II)

by Dara Lana Tan
Penantian saya dan orang-orang yang berbaris di sepanjang Jala Raya Cileunyi (Bandung), tidak sia-sia pun tidak surut walau hujan terus mengguyur.
Begitu rombongan pendemo dari Ciamis yang berjalan kaki muncul dari kejauhan, semua bersiap. Kami berdiri, berbaris panjang sekali di tepi jalan, menenteng kresek dan kardus berisi segala macam yang bisa kami berikan. Air minum dalam kemasan, hansaplast, jamu dalam kemasan sachet siap minum, masker untuk jaga-jaga jika nanti gas air mata disemburkan penguasa, sandal jepit, jas hujan dan pakaian ganti, plus sekantung plastik roti, donat, permen, buah, cemilan dlsb dalam satu plastik berbentuk paketan, kami bagikan.
ciamis-sembakoMereka, menerima dengan sangat senang hati. Takbir bersahutan tiada henti. Hujan, banjir, tidak menyurutkan massa untuk berkumpul memanjang dari ujung Jalan Raya Cileunyi sampai Bundaran Cibiru, dan sepanjang Jalan Soekarno-Hatta sampai Kantor Perhutani Soekarno – Hatta.
Yang membuat saya merinding, seorang santri kecil berusia 8 tahun, terlihat ikut berjalan bersama rombongan. TANPA ALAS KAKI, mengatupkan kedua telapak tangan dan menggigil kedinginan diguyur hujan.
Segera saya “tewak” (renggut) dan tarik ke pinggir anak itu.
“Sandalnya mana?” tanya saya.
“Putus, Bu. Jadi saya buang…” katanya.
Seorang dari kami menyodorkan sepasang sandal jepit baru.
“Bawa baju ganti?” tanya saya lagi.
Anak itu menggeleng.
Saya tarik makin ke tepi, tepat di teras Bank BJB ini. Saya minta dia melepas plastik kantung yang dipakainya untuk menahan hujan. Ternyata baju seragam santri yang dipakainya pun basah kuyup. Segera kami sodori sehelai kaos panjang dan celana training panjang, lalu dia memakai jas hujan yang juga kami sodorkan.
“Kenapa ikut?” tanya saya.
“Ngagentosan (menggantikan) pun Bapa (ayah saya)…” jawab anak lelaki itu.
“Bapa ade ka mana (Bapakmu ke mana)?” tanya saya sambil menggenggam kan beberapa lembar uang.
“Atos ngatunkeun (sudah tiada)…” jawab seorang santri dewasa yang muncul di belakangnya.
Ada rasa nyeri yang menyayat perut di bawah iga kanan saya.
Entah apa yang ada di benak para penghina, penyinyir dan penista yang kedua orang tuanya masih lengkap, berusia dewasa, punya biaya, uang banyak, gagah perkasa DAN dia MUSLIM, tapi bisanya cuma menyinyiri, menista dan menghina…
bocah
Rombongan lewat, semua logistik paketan habis kami bagikan. Tinggal logistik dalam wadah kardus dan karung. Kami naikkan ke Ambulance dan mobil-mobil bertanda rombongan.
Tetiba saya dibuat terkejut. Satu demi satu gadis-gadis berjilbab lebar itu bergantian memeluk saya dan saling berpelukan antar sesamanya dengan mata basah.
Ucapan syukur dan tangis kegembiraan mereka, juga terasa menyayat hati saya.
“Bu, ayo ikut…!” teriak anak gadis berjilbab lebar dan mengendarai sepeda motor. Saya diajak ikut mengiringi laju rombongan itu bersama anak-anak lain, dengan motor mereka.
Bahagianya hari ini, melupakan derita nyeri di hari pertama datangnya “tamu bulanan” saya…

___________________________________________________________________________________

2.  SEPENGGAL KISAH LONGMARCHER BOGOR – MONAS
Solidaritas Kafilah Ciamis : Jika Saudara Kami dari Ciamis saja bisa, Bogor pun bisa..!
Alhamdulillah, sungguh nikmat takterperi bagi kami, kafilah GNPF-MUI Bogor Raya yang berkesempatan menuntaskan longmarch dari Kota Bogor hingga Monas sejauh 70 kilometer, selama 24 jam. Sepanjang perjalanan longmarch menuju Monas, sungguh banyak kejadian-kejadian yang bikin kami terharu bahagia, menangis gembira, hingga terkaget-kaget dan terkejut-kejut. Rasa nano-nano gado-gado, agak sulit diungkapkan, kecuali bagi yang mengalaminya langsung.
_Yang Pertama Mengagetkan.._
Adalah ketika kami mendengar bahwa kafilah Ciamis, memutuskan berjalan kaki menuju Monas. Padahal berjarak hampir 300 km. Sebagai penghormatan, kami sudah melobi agar kafilah Ciamis bisa lewat Bogor sehingga ada kesempatan kami untuk menjamunya. Tapi ternyata sudah keduluan mau dijamu oleh rekan-rekan Bekasi. Fashtabiqul khairat, MasyaAllah..
_Yang Pertama Mengejutkan.._
Adalah ketika 25 armada bis yang rencananya akan mengangkut kami dari GNPF MUI Bogor Raya ternyata dibatalkan. Terinspirasi rekan-rekan pejuang dari Ciamis, akhirnya kami pun berbulat tekad akan melakukan longmarch. Lagi pula jarak Bogor – Monas hanya sekitar 70 kilometer. Jauh lebih pendek dibandingkan Ciamis – Monas yang hampir 300 kilo. Kafilah Ciamis memang ruarr biasa. Entahlah, kekuatan kakinya ditopang oleh apa. MasyaAllah..
_Yang Lebih Mengagetkan.._
Adalah saat kami sampaikan ke calon peserta yang sudah mendaftar. Ternyata ada ribuan pejuang yang antusias menyambut keputusan longmarch peserta Bogor menuju Monas. Sekali lagi, ada ribuan jamaah dari Bogor yang bersedia dan sanggup jalan kaki menuju Jakarta. Sebaran energi dari Ciamis nyata dahsyatnya, MasyaAllah…
_Yang Lebih Mengejutkan.._
Ternyata ada diantara peserta longmarch dari kalangan anak-anak sekolah, wanita dan bahkan kakek-kakek. Seorang anak seusia SD merengek-rengek ke bapaknya agar diijinkan ikut serta menemani orang tuanya, walau akhirnya tidak diijinkan. Ada juga seorang kakek tua usia 70-an menahan tangis gara-gara gak bisa ikut serta. Diselipkannya uang 100 ribu rupiah sebagai tanda turut berjuang dalam Aksi Bela Islam. “Bapak titip ya mas, bapak gak bisa ikutan jalan..”. Terharu…. MasyaAllah.
_Yang Makin Mengagetkan.._
Di sepanjang perjalanan, warga sudah menunggu kedatangan kami dengan menawarkan beragam makanan, minuman, buah-buahan, pakaian, hingga obat-obatan. Saking banyaknya bantuan yang diberikan, puluhan mobil yang menyertai peserta longmarch sudah tidak mampu lagi menampung pemberian warga. Beberapa mobil bahkan sampai kelebihan beban, padahal posisi masih di sekitar Cibinong Bogor. MasyaAllah..
_Yang Makin Mengejutkan.._
Ternyata banyak juga barang-barang unik yang diberikan warga, yang kami pun ada yang tidak terpikirkan sebelumnya, tidak sebatas makanan dan minuman semata. Ada handuk, sandal, sepatu, jas hujan, obat urut, minyak angin, salep pegel linu, minuman herbal, handyplast, hingga celana dalam sekali pake. Di Ciluar, puluhan anak-anak sekolah berjajar sepanjang jalan memberikan kue dan minuman. Di beberapa tempat di Cibinong, ada puluhan karyawan pabrik berseragam membagikan permen dan snack. Di Cilodong, ratusan ibu-ibu memberikan gorengan, roti, nasi kotak, kueh hingga mobil-mobil kami tdk sanggup menampung lagi saking banyaknya. Fenomena apa ini ? Solidaritas Kaum Muslim, luar biasa. MasyaAllah..
_Yang Tambah Mengagetkan.._
Di Cimanggis, saat rehat sejenak untuk mengistirahatkan badan dan meluruskan kaki, seorang ibu-ibu berjilbab besar tergopoh gopoh menghampiri. Minta dengan sangat agar kafilah longmarcher bersedia mampir di Masjid kompleknya. Beliau sampaikan, warga sudah menunggu berjam-jam dan telah disiapkan tempat untuk 400-an mujahidin. Saat itu sudah jam 11 malam. Walau sejak dari siang, perut belum terisi nasi, namun rupanya tawaran nasi tidak cukup menarik untuk diiyakan. Sedih sekali nampak raut mukanya. “Kami sudah menunggu berjam-jam lho pak..”, ucapnya mengiba.
Taklama kemudian, secara berurutan datang berbondong-bondong ibu-ibu yang lain, membawakan aneka makanan dan cemilan. Alhamdulillah, walau sudah jelang tengah malam tapi suasana masih sangat ramai. Tiba-tiba mobil berhenti di hadapan kami yang sedang duduk dan tiduran disepanjang trotoar, lalu keluarlah ibu-ibu setengah baya. Rada-rada memaksa menggandeng anak gadisnya yang terkesan malu-malu memberikan bingkisan ke kami. MasyaAllah..
_Yang Tambah Mengejutkan.._
Memasuki dini hari, bergabunglah rombongan massa Ormas Islam dari Depok. Jumlah peserta makin bertambah, longmarch makin meriah, semangat makin membuncah. Saat jelang pagi kami sudah memasuki Pasar Minggu. Seorang ibu berlari menghampiri kami dari arah belakang. Sambil memohon dengan sangat agar satu plastik penuh gorengan yang masih panas agar diterima. Katanya, pemberiannya ditolak disana sini, dari belakang hingga ke depan. Saya yang berada di barisan terdepan, akhirnya bersedia menerima. Untuk menyenangkannya, saya makan ubi goreng dan pisang goreng pemberiannya. Si ibu menangis haru..
Taklama kemudian, dari arah seberang terlihat seorang pemuda seusia 30-an berlari kencang menuju ke arah saya. Merangkul, mendekap erat seraya memberikan selembar uang 20 ribuan. “Tolong diterima tadz… tolong diterima, saya gak bisa ikut aksi. Saya hanya bisa ngasih ini..”, ucapnya mengiba. Setelah itu, bergegas dia berlari kembali ke seberang. Ternyata dia tukang gorengan. MasyaAllah..
_Yang Paling Mengagetkan.._
Begitu melewati Pancoran, banyak diantara anggota rombongan yang makin kepayahan, beberapa tertinggal dibelakang cukup jauh. Setengah mati kami berusaha bakar semangat dengan yel-yel yang nyaris tidak pernah berhenti. Beberapa peserta berjalan gontai dengan menyeret kakinya untuk melangkah. Namun, ada seorang bapak tua dengan perawakan kurus terlihat masih kuat walau kakinya terlihat pincang. Bikin malu kami kami ini yang jauh lebih muda, MasyaAllah..
Memasuki Cikini, kami telah disambut ratusan warga dipinggir jalan. Telah disiapkan aneka macam hidangan dan sarapan. Dengan sangat terpaksa, kami tidak mampir. Kami putuskan untuk meneruskan dan menuntaskan perjalanan, nanggung. Jam sudah menunjukkan pukul 09 pagi dan kami sebelumnya telah bertekad tidak akan berhenti kecuali jika telah sampai lokasi. Allahu Akbar..!
_Yang Paling Mengejutkan.._
Dari arah Cikini, massa peserta Aksi Bela Islam sudah menyemut. Kendaraan sudah penuh diparkir di kanan kiri jalan. Untuk menghormati kedatangan konvoi longmarch kafilah Bogor, peserta beringsut ke kiri dan kanan memberi jalan. Sambutan luar biasa meriah dan sorak sorai diiringi takbir membahana dari para peserta lain yang telah sampai duluan. Beberapa meter menjelang Tugu Tani, langkah kami terhenti, tidak bisa lagi merangsek lebih dekat. Total macet..cet..!
Alhamdulillah, usai sudah amanah dari warga Bogor tertunaikan, menuntaskan longmarch dari Bogor hingga ke Monas sejauh hampir 70 km. Saya lihat arloji, tepat jam 10. Berarti persis 24 jam, jauh diluar perkiraan GPS yang menginformasikan hanya 10 jam. Gerimis tipis menyambut kedatangan kami, menyegarkan badan sebagaimana QS Al Anfaal : 11. Meneguhkan pendirian setelah seharian berjalan untuk mengikuti aksi ini.
Saya tengok rombongan kafilah Bogor. Start jam 10 pagi ada ribuan peserta, hingga finish menyisakan ratusan orang. Wajar saja. Makanan dan minuman masih terlihat penuh di beberapa kendaraan pick up kami, tanpa tersentuh. Kami bagikan di lokasi aksi dekat Tugu Tani. 24 waktu tempuh perjalanan ini, perut gak masuk nasi, keringat sekujur badan membasahi. Luar biasa nikmatnya menjadi bagian dalam aksi ini.
Reflek tangan ini melihat satu kresek plastik besar yang terbungkus rapi. Saya buka, ooooh ternyata ada ratusan CD. Maaf, boro boro ganti, bahkan kami pun taksempat mandi…!
Subhanallah..
Alhamdulillah..
Allahu Akbar…!
#KamiTunaikanJanji
#KamiAlumni212
Fb Ustadz H. M.Rosyidi Aziz
______________________________________________________________________________________________________
3.  ADA ISTILAH BARU NYINYIERS
Catatan Dr. Iswandi Syahputra (Dosen IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta)
Demi Allah… baru kali ini saya melihat aksi demo hingga menangis. Saya tidak kuat menahan rasa haru, bahagia, bangga, gembira, dan sedikit amarah semua berbaur menjadi satu.
Awalnya saya ke Jakarta untuk wawancara narasumber riset saya. Tapi sebuah penerbit juga mengusulkan saya menulis buku tentang aksi 411 dan 212, lebih kurang membahas ‘Media Soslial dan Aksi Damai 4/212’. Karena kebetulan itu, saya bergerak hadir ke Monas pusat lokasi aksi 212.
Sambil menangis tersedu melihat aksi 212 saya telpon isteri untuk mengabarkan situasinya. Luar biasa, persatuan, kesatuan, kekompakan, persaudaraan, silaturrahmi umat Islam demikian nyata.
Pukul 07.00 WIB saya bergerak dari Cikini menuju Monas, ojeg yang saya tumpangi harus muter mencari jalan tikus. Semua jalan dan lorong mengarak ke Monas macet total. Perjalanan saya terhenti di Kwitang, dari Kwitang saya jalan kaki menuju Monas, hingga ke perempatan Sarinah. Saat sampai di Tugu Tani, dada saya mulai bergetar tak karuan. Seperti orang takjub tidak terkira. Umat Islam yang hadir saling mengingatkan untuk hati-hati, jangan injak taman, buang sampah pada tempatnya, segala jenis makanan sepanjang jalan gratis. Tidak ada caci maki seperti yang terjadi di sosial media. Saat itu sudah mulai perasaan berkecamuk, tapi masih bisa saya tahan.
Tepat di depan Kedubes AS, dada saya meledak menangis haru saat seorang kakek renta menawarkan saya buah Salak, gratis. Saya tanya, “Ini salak dari mana Kek?” “Saya beli sendiri dari tabungan”, jawabnya. Saya haya bisa terdiam dan terpaku menatapnya.
Di sebelahnya, ada juga seorang Ibu tua juga menawarkan makanan gratis yang dibungkus. Sepertinya mie atau nasi uduk. Bayangkan, Ibu itu pasti bangun lebih pagi untuk memasak makanan itu. Saya tanya, “Ini makanan Ibu masak sendiri?” “Iya”, jawabnya. “Saya biasa jualan sarapan di Matraman, hari ini libur. Masakan saya gratis untuk peserta aksi”. Masya Allah… Saya langsung lemes, mes, messss… Saya senakin lemes sebab obrolan kami disertai suara sayup orang berorasi dan gema suara takbir.
Dan., sepanjang jalan yang saya lalui, saya menemukan semua keajaiban Aksi Super Damai 212. Pijat gratis, obat gratis, klinik gratis, makan dan minum gratis. Perasaan lain yang bikin saya merinding, tidak ada jarak dan batas antara umat Islam yang selama ini kena stigma sosial buatan mereka para nyinyiers dan haters sebagai ‘Islam Jenggot’, ‘Islam Celana Komprang’, ‘Islam Kening Hitam’, ‘Islam Cadar’, ‘Islam Berjubah’ dan stigma negatif lainnya. Semuanya bersatu dalam: Satu Islam, Satu Indonesia, dan Satu Manusia!
Sepanjang perjalanan, saya mendengar antara peserta bicara menggunakan bahasa daerah Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Aceh, Minang bahkan ada juga yang berbahasa Tionghoa. Mungkin mereka saudara kita dari kalangan non muslim.
Melihat itu semua, “saya menyerah’, lagi-lagi saya menyerah!
Saya tidak kuasa menahan gejolak rasa yang bergemuruh dalam dada. Saya putuskan menepi, mencari kafe sekitar lokasi. Kebetelun saya punya sahabat baik yang pengelola “Sere Manis Resto dan Cafe”. Lokasinya strategis, pas di pojok Jl. Sabang dan Jl. Kebon Sirih. Tidak jauh dari bunderan BI dan Monas. Saya putuskan menyendiri masuk cafe itu untuk memesan secangkir kopi dan menyaksikan semua peristiwa dari layar TV dan Gadget yang terkadang diacak timbul tenggelam kekuatan sinyalnya.
Tapi di Resto/Cafe ‘Sere Manis’ itu juga saya temui umat Islam berkumpul membludak. Rupanya mereka antri mau mengambil wudhu yang disiapkan pengelola restoran. Tidak cuma itu, saya menemukan ketakjuban lain. Di dalam resto/cafe saya bertemu teman baru, seorang Scooter yang tinggal di daerah Cinere. Dia dan teman-temannya memilih berjalan kaki dari Cinere ke Monas (sekitar 40 KM) untuk merasakan kebahagiaan para santri yang berjalan dari Ciamis ke Jakarta. Masya Allah…. Saya semakin sangat kecil rasanya dibanding mereka semua. Ini kisah dan kesaksian saya tentang Aksi Super Damai 212. Mungkin ada ratusan atau ribuan orang seperti saya yang tidak terhitung atau tidak masuk dalam gambar aksi yang beredar luas. Kami orang yang lemah, tidak sekuat saudara kami yang berjalan kaki di Ciamis atau Cinere.
Maka, janganlah lagi menghina aksi ini. Apalagi jika hinaan itu keluar dari kepala seorang muslim terdidik. Tidak menjadi mulia dan terhormat Anda menghina aksi ini. Terbuat dari apa otak dan hati Anda hingga sangat ringan menghina aksi ini? Atau, apakah karena Anda mendapat beasiswa atau dana riset dari pihak tertentu kemudian dengan mudah menghina aksi ini?
Jika tidak setuju, cukuplah diam, kritik yang baik, atau curhatlah ke isteri Anda berdua. Jangan menyebar kebencian di ruang publik. Walau menyebar kebencian, saya tau kalian tidak mungkin dilaporkan umat Islam. Sebab umat Islam tau persis kemana hukum berpihak saat ini.
Terlepas ada kebencian dari para ‘nyinyiers’, saya bahagia bisa tidak sengaja ikut aksi damai 212 ini. Setidaknya saya bisa menularkan kisah dan semangat ini pada anak cucu saya sambil berkata: “Nak, saat kau bertanya ada dimana posisi Bapak saat aksi damai 2 Desember 2016? Bapak cuma buih dalam gelombang lautan umat Islam saat itu. Walau cuma buih, Bapak jelas ada pada posisi membela keimanan, keyakinan dan kesucian agama Islam. Jangan ragu dan takut untuk berpihak pada kebenaran yang kau yakini benar. Beriman itu harus dengan ilmu. Orang berilmu itu harus lebih berani. Dan mereka yang hadir atau mendukung aksi 212 adalah mereka yang beriman, berilmu dan berani. Maka jadilah kau mukmin yang berilmu dan pemberani anakku”.
 _____________________________________________________________________________________________________

4. Cerita Inspiratif buat kita2 yg merasa sudah ‘cukup’ beragama….
*Adalah saya akan tak ikut lagi aksi 212???*
Saya anggap dunia adalah soal bagaimana hidup dan cari kehidupan.. bagaimana menikmati dan lebih baik dari manusia lain, bagaimana bisa punya status baik, dihargai dengan apa yg dipunya dan sedikit jalan2 menikmati dunia..
Saya anggap orang yg maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool… Janganlah sesekali dan ikut2an jadi orang norak… ikut kelompok jingkrang2 dan entah apalah itu namanya..
Saya tak ikut aksi bela agama ini itu kalian jangan usil, jangan dengan kalian ikut saya tidak, artinya kalian masuk syurga saya tidak!, Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal..Saya bantu orang2, bantu saudara2 saya juga,, jgn kalian tanya2 soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang2 respek pada saya, temanpun aku banyak…tiap kotak sumbangan aku isi..
Saya masih heran, apa sih salah seorang ahok? Dia sdh bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi hatinya baik kok, saya hargai apa yang sudah dia buat bagi jakarta… Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada pilkada,, saya tak mau terbawa2 arus seperti teman2 kantor yg tiba2 juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari2 sensasi… paling juga mau selfie2..
Sampai satu saat….
sore ini dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki, saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih2, rompi hitam dan hanya beralas sendal,, muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah2 itu.. mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yg mau melintas, tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh2 atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yg ugal2an…. Ini aneh, biasanya kalau sdh bertemu orang ramai2 di jalan aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif…. Sore ini, di jalan aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah2 dan baju putih mereka yg basah terkena gerimis,…
Papasan berlalu, aku setel radio lain…ada berita,, rombongan peserta aksi jalan kaki dari ciamis dan kota2 lain sudah memasuki kota, ada nama jalan yg mrk lalui… Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu… Aku tertegun…
Lama aku diam ,, otakku serasa terkunci, analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan, tak kutemukan apa pun yg sesuai dengan pemikiranku, apa yg membuat mereka rela melakukan itu semua?? Apa kira2?.. aku makin sibuk berfikir…. Apa menurutku mereka itu berlebihan? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka2 ikhlas itu…. Apa mereka ada tujuan2 politik? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang memcapai tujuan bukan dengan cara2 itu…. Apakah orang2 dgn tujuan politik yang gerakkan mereka itu?.. aku hitung2, dari informasi akan ada jutaan peserta aksi,, berapa biaya yg harus dikeluarkan untuk itu kalau ini tujuan kelompok tertentu… Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yg mau ongkosi krn nilainya sangatlah besar….
Aku dalam berfikir, dalam mobil, masih dalam gerimis kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga… Terlihat di pinggir2 jalan anak2 sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue2 warung ke mereka, sepertinya itu dr uang jajan mereka yg tak seberapa…. Aku terdiam makin dalam… Ya Allah….kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini??? Kenapa hanya hal2jelek yang mau aku lihat tentang agamaku… Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku??
Aku mampir ke masjid, mau sholat ashar…aku lihat sendal2 jepit lusuh banyak sekali berbaris…aku ambil wudhu…
Kembali, di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yang tercecer,, muka mereka lelah sekali, mereka duduk,, ada yg minum, ada yg rebahan, dan lebih banyak yg lagi baca Quran…  Hmmm
Aku sholat sendiri,, tak lama punggungku dicolek dr belakang, tanda minta aku jd imam, aku cium aroma tubuh2 dan baju basah dari belakang…. Aku takbir sujud,, ada lagi yang mencolek,. Nahh….Kali ini hatiku yang dicolek, entah kenapa… hatiku bergetar sekali, aku sujud cukup lama, mereka juga diam… Aku bangkit duduk,, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku…. Ya Allah… Aku tak pantas jadi imam mereka,. Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka…. Bagiku agama hanya hal2 manis, tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya , in style ..bla bla bla,… Walau ada hinaan ke agamaku aku harus ttp elegan, berfikiran terbuka…  Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah, kenapa aku Kau jadikan aku imam sholat mereka?? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku??….
Hanya 3 rakaat aku imami mereka,, hatiku luluh ya Allah…. mataku merah nahan haru… Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu tapi tetap senyum.. agak malu2 aku peluk dia, dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali… Ini bisa jadi dia anakku juga,. Apa yg telah kuajarkan anakku soal islam? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini?? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh… dia demam sedikit aku panik… Aku nangis dalam hati…. di baju putihnya ada tulisan nama sekolah,. smp ciamis… Ratusan kilo dari sini…. kakinnya bengkak karena berjalan sejak dari rumah, dia cerita bapaknya tak bs ikut krn sakit dan hanya hidup dr membecak, bapaknya mau bawa becak ke jakarta bantu nanti kalau ada yg capek, tapi dia larang… Aku dipermalukan berulang2 di masjid ini… Aku sudah tak kuat ya Allah… Mereka bangkit, ambil tas2 dan kresek putih dr sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid,, rasa2nya melihat punggung2 putih itu hipang dr pagar masjid aku seperti sudah ditinggal mereka yg menuju syurga… Kali ini aku yg norak,, aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat,, air mataku keluar lagi…. kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian..
Sudah jam 5an,, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini…miting dgn klien sptnya batal… aku mikir lagi soal ke islamanku, soal komitmenku ke Allah, Allah yg telah ciptakan aku, yg memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini…. dimana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini??? Ada dimana? Imanku sudah aku buat nyasar di mana?…
Aku naik ke mobil, aku mikir lagi,. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yg telah lepas dalam benakku selama ini… Ada satu kata,. Sederhana sekali tanpa bumbu2… Ikhlas dalam bela agama itu memamg nyata ada…
Aku mampir di minimarket,, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap… Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional…. Ini kebangganku yg pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali… Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalanMu yang lurus, yg lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati….
Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat jumat dan berdoa bersama saudara2ku yang sebenarnya,. Orang2 yang sangat ikhlas membela Mu… Besok, tak ada jarak mereka denganMu ya Allah… Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yg basah kuyup hari ini….tak ada penggargaan dr manusia yg kuharap, hanya ingin Kau terima sujudku… Mohon Kau terima dengan sangat… Bismilahirahmanirahiim….
(1 Desember 2016 , Ditjeriteratakan oleh Joni A Koto, Arsitek, Urban planner.. alumni ITB 93)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s