Life, love and passion

Kapan Pakai Hijab?


Sore ini tiba2 saya teringat seorang teman SMA yang menasehati saya tentang jilbab. Suatu hari dia bertanya pada saya “Kapan lo pake jilbab?”. “Nantilah kalau gue masuk UI” jawab saya enteng. “Kalau nggak keterima di UI gimana? trus kalo meninggal belum sempat pake jilbab gimana?”  Pertanyaan2 teman saya itu benar2 membuat saya membungkam, bingung mau jawab apa. Walaupun perkataannya terkesan “galak”, dalam hati saya membenarkan perkataannya tersebut. Alhasil setelah perbincangan singkat tersebut, hati saya tidak tenang dan merasa bersalah. Iya ya.. kenapa harus menunggu masuk UI baru pake jilbab, kenapa tidak secepatnya. Iya kalo jadi masuk UI, kalo ngga gimana? pake hijabkan kewajiban bagi muslimah bukan nazar.

 

ilustrasi

Tidak lama setelah itu, saya mulai mencoba mengenakan pakaian muslimah (berjilbab). Saat itu saya cuma punya 3 potong bergo pemberian sepupu saya beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya belum langsung menggunakan jilbab seutuhnya, saya hanya memakainya pada saat saya pergi ke tempat kursus bahasa inggris, ke sekolah belum. Semakin lama tekad saya untuk berhijab sempurna semakin kuat. Hanya 1 bulan sebelum lulus dari SMA saya memutuskan untuk berhijab. Seorang teman memberikan rok panjangnnya dan saya memakai bergo putih pemberian guru mengaji saya. Dengan modal pakaian muslimah “seadanya” saya mantapkan hati untuk menutup aurat saya kapanpun dan dimanapun. Walaupun dirumah sendiri saya tetap berhijab jika ada laki2 yang bukan mahram saya.

Sepuluh tahun yang lalu saat pertama kali saya mengutarakan keinginan untuk berhijab kepada orang tua,  masih membekas diingatan saya betapa bapak saya menentang saya memakai hijab, begitu pun ibu saya. Meskipun ditentang oleh orang tua sendiri saya tetap bersikukuh menjalankan perintah Allah ini. Alhamdulillah lama kelamaan orang tua saya pun bisa menerima penampilan anak yang serba tertutup. Mereka mulai mendukung, ibu saya membelikan banyak pakaian2 muslimah untuk saya pakai ke kampus dan bapak saya lama-lama capek sendiri dengan komentar2 miringnya terhadap jilbaber. Dulu bapak saya suka protes melihat saya memakai rok panjang menurut beliau itu menyusahkan saya ketika naik dan turun bis. Belum lagi cemoohan tante saya yang bilang saya kampungan dengan penampilan berjilbab.  Tetapi saya tetap pada pendirian saya, alhamdulillah tidak terasa sudah 10 tahun lebih saya menjalankan perintah Allah untuk menutup aurat, semoga tetap istiqomah hingga hari akhir nanti, amin ya rabbal alamin.

Saya juga teringat sebuah kisah dari seorang teman yang bercita-cita menjadi pramugari. Cita-citanya menjadi pramugari tidak kesampaian. Bukan karena dia kurang cantik atau kurang menarik tetapi justru karena Allah sayang padanya.  Allah memberikan hidayah tepat pada saat dia diterima menjadi pramugari di salah satu maskapai penerbangan terkemuka nasional. Dia rela meninggalkan pekerjaan barunya, dia ikhlas cita2nya pupus begitu saja.  Dia memutuskan mengundurkan diri karena pertimbangan “aurat”. Menurutnya lebih baik kehilangan pekerjaan daripada kehilangan rahmat dan kasih sayang Allah. Ia sangat menyadari bahwa pekerjaan tersebut hanya akan membuatnya menjadi wanita yang auratnya menjadi “tontonan” banyak laki2 yang bukan mahramnya. Apalah artinya gaji yang tinggi jika harus mengorbankan paha, betis dan  tubuh yang dibalut pakaian super ketat menjadi pemandangan gratis di depan publik. “Pekerjaannya halal sih..tapi kan belum tentu berkah” itu katanya.

Subhanallah…saya tertegun mendengarkan ceritanya. Betapa Allah sayang padanya, Allah melindunginya dari pekerjaan yang tidak baik untuknya. Allah menjaganya agar auratnya tetap “terbungkus” rapi dan hanya dipersembahkan untuk laki2 yang menjadi suaminya kelak.

Ada juga cerita yang sangat menyedihkan, seorang teman dipanggil Allah sebelum sempat menjalankan niatnya untuk berjilbab. Saya mengetahuinya langsung dari ibunya yang bercerita beberapa hari setelah anak perempuannya tsb meninggal. Anaknya itu sempat mengutarakan niatnya ingin berjilab ketika kuliah nanti, tetapi sangat disayangkan takdir berkata lain, sebelum memasuki dunia perkuliahan, ia mengalami kecelakaan dan maut menjemputnya, innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga Allah mencatat niat baiknya tersebut sebagai amal kebaikan, amin…

Nah, teman2 tunggu apalagi, bersegeralah menjalankan perintah Allah untuk menutup aurat kita. Ketika hidayah atau keinginan itu datang, jangan tunda-tunda lagi. Bukankah perintah menutup aurat sudah jelas tersurat dalam Al-quran, kenapa masih ragu? Apalagi yang ditunggu? Memang godaan dunia sangat kuat, godaan syetan untuk memperlihatkan anggota tubuh kita para wanita sangatlah berat. Yakinlah bahwa itu semua hanya tipu muslihat dunia yang fana.

Ada yang bilang yang penting hatinya dulu yang dijilbabin. Lalu sampai kapan si “hati” dijilbabi tetapi anggota tubuh lain yang tidak boleh ditampakkan kita biarkan terbuka? InsyaAllah setelah berhijab, cepat atau lambat perilaku kita yang tadinya kurang baik akan berubah menjadi lebih baik karena “dipaksa” oleh penampilan kita yang berpakaian muslimah.  Jilbab bisa menjadi alat pengingat atau penjaga kita dalam bertindak atau berperilaku. Rasa malu, segan, sungkan atau berdosa akan timbul manakala kita berniat berbuat buruk karena kita ingat dengan jilbab yang kita pakai.

Seorang teman jilbaber mengatakan bahwa jilbab yang ia kenakan bisa menjadi “senjata” pertahanan baginya pada saat teman2nya mengajaknya untuk pergi ke Pub atau keluar malam. Ia merasa amat sangat tidak pantas jika wanita berjilbab bepergian ketempat2 hiburan yang banyak maksiatnya. Kalaupun ada muslimah berjilbab yang perilakunya kurang baik atau tidak pantas dengan penampilannya itu karena pribadinya sendiri yang mungkin belum baik bukan karena jilbabnya.

Tulisan ini tidak bermaksud menceramahi atau menggurui teman2. Saya hanya mengingatkan diri saya sendiri yang belum sempurna menjadi wanita muslimah, cara saya berpakaian dan berjilbabpun masih jauh dari sempurna. Saya masih harus terus memperbaiki diri, tidak hanya penampilan luar tetapi juga menata hati dan pribadi saya sendiri.

Saya teringat sebuah hadist Rasulullah yang berbunyi “sampaikan dariku walau satu ayat” (HR. Bukhari), kita disuruh oleh Nabi untuk menyampaikan kebaikan walaupun hanya satu ayat. Oleh karena itu izinkan saya  mengajak teman2 wanita muslimah yang belum berjilbab untuk segera menjalankan perintah Allah untuk mengenakan jilbab karena tidak mungkin Allah mewajibkan wanita untuk menutup aurat jika tidak ada kebaikan didalamnya.

Seperti yang dicantumkan dalam Al Qur’an :

a. Al Quran surat Al Ahzab : Ayat 59

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59)

b. Al Quran Surat An Nuur : Ayat 31

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. 24:31)

c. Al Quran surat Al A’raaf : Ayat 26

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. 7:26)

Semoga tulisan ini ada manfaatnya dan mohon maaf jika ada yang tersinggung atau terlukai hatinya setelah membaca tulisan saya ini. Atau mungkin ada yang kurang setuju atau berbeda pendapat silahkan saja. Saya hanya menuliskan apa yang saya yakini bahwa menutup aurat/berhijab adalah wajib bagi wanita muslimah.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya, amin ya rabbal alamin.

Canberra, 8 March 2011.

Note: insyaAllah akan ada tulisan lain ttg manfaat berhijab

2 responses

  1. Rofingah Hamid

    Ada niat INSYA ALLAH, do’ain y teman…

    June 19, 2012 at 23:47

    • semoga diberi hidayah Allah dan disegerakan berhijab, aamiin ya rabbal alamin..

      February 27, 2013 at 21:31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s