Life, love and passion

Gelar Master Ini Untuk Orang Tua Saya


Salah satu mimpi saya adalah bisa meraih gelar S2 dari universitas di luar negeri dengan beasiswa sebelum umur 30 tahun.  Alhamdulillah…segala puji bagi Allah..mimpi saya tersebut akhirnya terwujud pada hari kamis, 9 Desember 2010.  Saya berhasil meraih gelar S2 ( Master of Social Research) dari Australian National University dengan beasiswa dari kantor tempat saya bekerja, pada umur 28 tahun.

Gelar Master ini saya persembahkan untuk kedua orangtua saya tercinta. Waktu SMP dulu saya pernah berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya harus lebih baik dari orangtua saya, kalau bapak saya lulusan akademi dan ibu saya lulusan SMA maka saya harus mencapai pendidikan yang lebih baik dari mereka.  Saya tidak akan bisa mencapai prestasi ini tanpa pengorbanan, dukungan, dan doa orangtua. Saya sangat sadar bahwa apa yang telah saya raih saat ini adalah dengan campur tangan orangtua saya dan pasti atas ijin-Nya.  Saya merasa sangat beruntung karena orangtua saya sangat menomorsatukan pendidikan anak-anaknya. Masih teringat jelas dalam ingatan saya, mulai kelas 5  SD saya sudah ikut kursus bahasa inggris dan kelas 1 SMP saya ikut kursus komputer.  Kursus bahasa inggris dan komputer pada waktu itu adalah sesuatu yang “wah” karena belum banyak lembaga kursus yang dibuka belum lagi biayanya yang relatif mahal pada jaman itu.

Tidak terhitung betapa banyak pengorbanan waktu yang dihabiskan, tenaga dan biaya yang dikeluarkan, kasih sayang yang tercurahkan dan doa tulus orangtua yang terucap untuk saya karenanya saya selalu memohon pada Allah agar bisa membahagiakan mereka dan menjadi anak yang bisa dibanggakan. Terlebih sejak bapak saya terserang stroke dan harus berhenti bekerja pada saat saya masih kuliah S1, 1 adik saya juga masih kuliah dan 2 adik saya masih SMA.

Dulu saya sering bolos kuliah karena tidak punya ongkos untuk berangkat ke kampus.  Saya tidak tega untuk meminta uang pada ibu saya  karena saya tahu kondisi keluarga kami saat itu sangat sulit. Uang pesangon bapak saya habis untuk biaya berobat dan biaya hidup sehari-hari.  Ibu saya bekerja keras untuk membiayai sekolah kami. Beliau tidak malu berkeliling ke rumah tetangga untuk menawarkan dagangan dan harus bersusah payah membawa barang dagangan yang berat dari tanah abang, naik turun dan berdesakan di KRL.  Bapak saya juga sangat berjasa, saya masih teringat betapa bapak saya selalu mengabulkan keinginan saya mulai dari ikut kursus bahasa inggris sejak SD sampai dibuatkan tiang basket dar besi yang sangat kokoh di lapangan depan rumah dan lain sebagainya.

Saya tidak bisa menyebutkan satu per satu pengorbanan mereka dalam mendidik dan membesarkan saya. Satu yang pasti bahwa saya tidak akan bisa membalas jasa-jasa mereka. Saya hanya bisa berdoa dan menunjukkan prestasi terbaik saya dan itu selalu saya niatkan hanya untuk mereka. Tidak ada yang lebih membahagiakan buat saya selain bisa membuat mereka bangga terhadap saya. Siapa lagi yang bisa membahagiakan orangtua kita kalau bukan kita sendiri.

Mama dan Bapak tercinta terimalah persembahan anakmu ini, sebuah pencapaian akademik yang tidak ada artinya jika dibandingkan dengan segala pengorbanan, cinta dan kasih sayang mama dan bapak. Terima kasih tak terhingga atas segala yang telah diberi. Hanya doa tulus yang kuucapkan agar Allah selalu melindungi dan menjaga mereka kapanpun dan dimanapun mereka berada. Ya Allah sayangilah kedua orangtuaku sebagaimana mereka menyangi aku diwaktu aku kecil. Amin ya rabbal alamin…

Canberra, December 20, 2010. 19:47

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s